LAUT JAWA - Muktamar I PKNU yang digelar di atas Kapal Lambelu, menyusuri Laut Jawa berakhir hari ini. Hasilnya, dua calon ketua berhasil dipilih secara aklamasi oleh para muktamirin, tidak dapat disaingi oleh kandidat lain yang hasil suaranya kurang dari 20 persen.
Keduanya adalah, Ketua Muktasyar, KH Abdullah Faqih asal Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dia dipilih dan dikehendaki oleh seluruh muktamirin, tanpa proses pemilihan. Alasannya, beliau dinilai merupakan salah satu pendiri PKNU yang bisa dijadikan panutan, terutama dalam rangka membesarkan partai.
Untuk posisi Ketua Dewan Tanfidz, Choirul Anam juga dipilih secara aklamasi. Bedanya, terpilihnya Cak Anam, demikian dia sering dipanggil, masih sempat melalui proses pemilihan hingga putaran pertama. Dari hasil pemilihan, Cak Anam sempat mendapat 220 suara.
“Mengacu pada tatib (tata tertib), suara yang diperoleh lebih dari 40 persen, sehingga terpilih secara aklamasi,” ujar pimpinan sidang Muktamar I PKNU, Andi Najmi Fuadi, disambut sorak gembira seluruh muktamirin.
Sementara, untuk pemilihan Dewan Syuro sendiri yang berlangsung alot. Sebab, kandidat kuat yang diprediksi mulus dan dipilih secara aklamasi, KH Abdul Adhim Suhaimi (Jakarta), mendapat saingan dari kandidat lain yang sebelumnya menjabat Sekretaris Jendral (Sekjen), Dr H Alwi Shihab.
Dari hasil perhitungan suara, Mbah Dhim, demikian dia sering disebut, mendapat 120 suara dan Alwi 87 suara. Berhubung perolehan suara sangat ketat dan bisa memenuhi syarat 20 persen untuk menuju putaran kedua, maka pimpinan sidang langsung menanyakan kesanggupan kepada dua kandidat.
Saat di hadapan muktamarin, Mbah Dhim menyatakan siap mengemban amanah untuk maju menjadi ketua dewan syuro. Sementara, Alwi yang tidak ada di lokasi muktamar membuat panitia kebingungan untuk meminta pernyataan sikap, sanggup maju atau tidak.
Baru setelah beberapa jam kemudian, panitia berhasil mengkonfirmasi Alwi lewat telepon seluler. Dia menyatakan secara tegas, tidak maju menjadi ketua dewan syuro dan sebaliknya mendukung penuh, Mbah Dhim untuk menjadi ketua.
“Saya mendukung penuh Kiai Adhim. Tolong sampaikan salam ini kepada seluruh peserta muktamar,” ujar Alwi, saat dikonformasi lewat telepon seluler milik Dr H Heflin Frinces, salah satu mantan Ketua DPP PKNU, periode 2005-2010.
Usai memperoleh kabar Alwi mundur, praktis pendukung Mbah Dhim langsung berteriak, mengumandangkan takbir dan berkali-kali menyebut Hidup Kiai Adhim. Selain ada nama Alwi, dalam pemilihan dewan Syuro tersebut juga terdapat nama KH Maruf Amin (ketua lama) dan KH Mas Subadar (Pasuruan).
Dalam sambutannya, KH Abdul Adhim menyatakan, siap untuk mengemban amanah yang diberikan oleh muktamarin. Dia menyatakan sangat optimistis, bila semua kader bersatu, PKNU ke depan akan menjadi kekuatan politik besar yang diperhitungkan di Indonesia. “Mari kita bergandeng tangan, berjalan bersama untuk kebesaraan PKNU yang tercinta ini,” terangnya.
Hal yang sama dikatakan Ketua Dewan Tanfidz DPP PKNU terpilih, Choirul Anam. Dia menyatakan, apa yang dihasilkan dalam muktamar kali ini, setidaknya sudah sesuai dengan cita-cita para pendiri PKNU. Salah satunya menjadi partai yang bersih, tanpa diwarnai dengan money politics dalam pemilihan ketua. “Ke depan sudah kami siapkan konsep untuk membesarkan PKNU. Salah satunya, dengan mencetak kader yang militan di tingkat desa,” urainya.
JK dan Yeni Wahid Sempat Disebut
Ada hal yang di luar dugaan dan cukup membuat tertawa para kalangan muktamirin, dalam proses pemilihan Ketua Tanfidz DPP PKNU. Dua orang tokoh sempat dicalonkan oleh salah satu pemilih, yakni nama Jusuf Kalla dan Yeni Wahid (putrid almarhum Gus Dur).
Dari hasil penghitungan, nama JK dan Yeni, masing-masing memperoleh satu suara atau hanya diusulkan oleh satu peserta saja. Dengan demikian, kedua calon tersebut hanya sebatas disebut saja, tidak sampai melaju pada pemilihan berikutnya.
(Muhammad Saifullah )