Perang Korea Panaskan Dunia

Baskoro Pramadani, Jurnalis
Rabu 29 Desember 2010 16:48 WIB
Serangan Korut ke Korsel (Foto: Reuters)
Share :

Situasi di semenanjung Korea seketika memanas ketika pada 23 November 2010 Korea Utara (Korut) menembakkkan serangkaian meriam artileri ke Pulau Yeongpyeong milik Korea Selatan (Korsel). Militer Korsel mengaku sempat membalas serangan ini sebagai bentuk pembelaan diri. 

Baku tembak di antara dua Korea pada akhirnya menewaskan dua marinir dan dua warga sipil. Keduanya berasal dari pihak Korsel. Selain itu, serangan tersebut juga telah menghancurkan puluhan rumah dan menghanguskan sebagian besar lahan di pulau tersebut.

Kementerian Luar Negeri Korsel mengonfirmasi tindakan Korut tersebut. Mereka juga mengatakan pihaknya juga sempat melakukan serangan balasah sebagai bentuk pembelaan diri. 

Menurut juru bicara Kemenlu Korsel  sebuah unit artileri milik Korut melakukan tindakan ilegal, yaitu penembakan yang sepertinya untuk memprovokasi pada pukul 14.34 waktu setempat, dan prajurit Korsel balik menembak untuk membela diri.

Insiden ini membuat pihak Kementerian Pertahanan Korsel juga menyatakan mereka akan mendiskusikan lebih jauh kemungkinan untuk mengevakuasi sekira 300 pihak non-militer dari Pulau Yeonpyeong. 

Pihak-pihak tersebut berasal dari kalangan penduduk lokal, jurnalis serta pejabat pemerintah lain yang masih bertahan di pulau tersebut. Khusus bagi warga lokal, keharusan mengungsi cukup memberatkan mereka. Pasalnya, mereka harus tinggal di tempat yang kurang layak, seperti pemandian umum, selama masa pengungsian.

Penembakan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi antara kedua negara menyusul klaim Korut atas fasilitas pengayaan uranium baru yang mereka miliki. Beberapa hari sebelum melakukan serangan, Korut sempat mengundang seorang pakar teknologi asal Amerika Serikat (AS) ke fasilitas nuklir milik mereka di Yongpyon. 

Laporan dari pakar itu sungguh mengejutkan karena Korut ternyata memiliki pengayaan nuklir yang modern. Hal ini bertentangan dengan kesepakatan yang pernah mereka capai di six-party talks (pembicaraan enam pihak).

Serangan tersebut sempat membuat pihak Korsel panas. Para pejabat Korsel pun sempat melakukan rapat darurat di ruang perlindungan bawah tanah. Mereka waktu itu mengatakan dengan tegas akan membalas segala tindak provokasi lebih jauh dari Pyongyang. 

Menteri Pertahanan Korsel ketika itu Kim Tae-young ikut menjadi "korban." Dia terpaksa mengundurkan diri setelah rakyat Korsel memprotesnya telah bertindak terlalu lembek dalam menghadapi serangan Korsel.

Korut mengklaim serangan yang mereka lakukan hanyalah serangan balasan dari tindakan provokasi yang dilakukan Korsel. Mereka mengatakan militer Korsel, yang pada saat insiden terjadi tengah melakukan latihan militer, telah menembakkan sejumlah artileri ke wilayah perairan mereka. Korsel berpendapat sebaliknya, melihat serangan Korut sebagai sebuah bentuk provokasi yang disengaja. 

Menurut mereka, serangan Korut bahkan telah direncanakan dan dipikirkan secara hati-hati sebelumnya.

Insiden di antara dua Korea telah seringkali terjadi di daerah perbatasan tersebut. Salah satu faktor utamanya adalah Pyongyang, yang tidak menyetujui garis demarkasi di wilayah perairan Laut Kuning. Garis tersebut menurut mereka ditetapkan secara sepihak oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah Perang Korea mengalami gencatan senjata pada 1953. 

Sementara itu, beberapa pihak menduga kepentingan Korut melakukan suksesi kepemimpinan -dari Kim Jong-il ke putranya Kim Jong-un- di negaranya ikut menjadi faktor pemicu serangan. 

Pejabat tinggi militer AS Laksamana Mike Mullen mengatakan serangan artileri Korut ke Pulau Yeonpyeong milik Korsel terkait dengan rencana suksesi kepemimpinan di Korut. 

Sementara Korsel menilai Korut tengah berusaha mengumandangkan kekuatan militer calon putra mahkota mereka, memperkuat kesatuan internal, sekaligus melampiaskan ketidakpuasan terhadap pihak luar.

Beberapa saat setelah serangan Korut, AS dan Korsel menggelar latihan perang bersama dengan skala besar. Kapal induk AS USS George Washington ikut terlibat dalam latihan militer ini. 

Latihan bersama antara dua negara yang saling bersekutu ini dilihat sebagai ajang pertunjukkan kekuatan. Maksudnya, agar Korut berpikir ulang jika ingin melakukan tindakan provokasi lebih jauh di semenanjung. Latihan yang berlangsung selama lima hari ini mendapat kecaman dari pihak Korut. 

Banyak kalangan mengatakan serangan Korut ke Pulau Yeonpyeong adalah salah satu insiden terburuk dalam hubungan di antara dua Korea sejak Perang Korea terhenti pada 1953 dengan diberlakukannya gencatan senjata. 

Serangan tersebut mendatangkan sejumlah kecaman dari kalangan internasional, kecuali dari China yang merupakan sekutu terdekat Korut. Walaupun begitu China tetap kedua Korea menyelesaikan masalah secara damai. 

Terkait dengan serangan Korut, China meminta diadakannya pertemuan antara negara-negara yang terlibat dalam six-party talks (pembicaraan enam negara). 

Permintaan tersebut disampaikan utusan tinggi China dalam hal penanganan nuklir Wu Dawei. Dia mengatakan komunitas internasional, khususnya negara-negara yang tergabung dalam six-party talks, harus merasa prihatin dengan perkembangan yang terjadi (di semenanjung Korea). 

Usulan tersebut tidak mendapat sambutan baik. Korsel misalnya, menunjukkan respon yang sangat hati-hati. Pihak Kementerian Luar Negeri Korsel mengatakan usulan China tersebut harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati. 

Mereka juga memberi catatan atas sikap Korut baru-baru ini yang melakukan unjuk kekuatan terkait dengan fasilitas pengayaan uranium modern yang mereka miliki. Menurut Korsel, keberadaan fasilitas tersebut menunjukkan Korut tidak memiliki iktikad baik menghentikan program nuklir mereka.

AS melakukan penolakan dengan lebih tegas. Sikap China yang menolak melakukan kecaman terhadap serangan Korut telah cukup mengecewakan mereka. Alih-alih menyetujui usulan China, AS justru mengajak dua negara sekutunya, Korsel dan Jepang, melakukan perundingan trilateral. 


Perundingan tersebut berlangsung di Washington pada 6 Desember lalu. Ketiga negara berharap mereka dapat mendorong China sebagai sekutu terdekat Korut untuk menggunakan pengaruhnya atas negara Kim Jong-il.  

Dalam perkembangannya, Korsel telah kembali melakukan latihan militer di beberapa lokasi. Salah satu titik latihan militer Korsel adalah Pulau Yeonpyeong. Namun mereka berjanji tidak akan mengarahkan moncong meriamnya ke utara.

Korut sendiri sempat mengancam akan melakukan serangan yang lebih mematikan jika Korsel tetap melanjutkan rencana latihannya. Beberapa pihak, seperti Jepang, sempat memperingatkan Korut agar tidak menjadikan latihan militer Korsel, yang sebenarnya telah biasa dilaksanakan sebagai alasan melakukan tindak provokasi lebih jauh.

Korut pada akhirnya memang tidak jadi melakukan serangan terhadap Korsel, walau negara rival mereka itu tetap menggelar latihan militer. Namun sikap menahan diri Korut ini tampaknya tidak lepas dari peran utusan informal AS untuk Korut, Bill Richardson. 

Pada saat yang bersamaan dengan latihan militer Korsel, Richardson melakukan kunjungan ke Korut atas dasar undangan pihak Pyongyang. Richardson mengaku dia telah meminta para petinggi di Korut untuk melakukan pengendalian diri ekstrim terhadap Korsel dan membiarkan rencana latihan Korsel tetap berjalan. 

Klaim Richardson yang menyatakan dirinya telah meraih sedikit kemajuan atas Korut terbukti cukup melegakan. Richardson adalah negosiator veteran AS yang terkenal cukup dekat dengan Korut. 

Kondisi di semenanjung Korea pun menjadi lebih stabil, setidaknya untuk saat ini. 

(Fajar Nugraha)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya