SURABAYA - Jika tiga anak komodo di Kebun Binatang Surabaya (KBS) benar dicuri, maka diduga kuat motif pelakunya mencari keuntungan. Betapa tidak, di pasar gelap, seekor anak komodo yang berusia sekira 1 tahun bisa dihargai hingga Rp30 juta.
Berdasarkan temuan lembaga Pro-Fauna, harga anaka komodo yang dijual di Pasar Pramuka, Jakarta Pusat, pada 2007 mencapai Rp20 juta sampai Rp30 juta.
“Itu harga 4 tahun lalu. Kalau sekarang harga itu jelas sudah naik,” kata Rosek Nursahid, Ketua Pro-Fauna saat dihubungi okezone, Selasa (22/3/2011).
Rosek melanjutkan, sangat besar kemungkinan anak-anak komodo milik KBS itu dicuri kemudian dijual ke pasar gelap.
Pasalnya, tegas dia, banyak konsumen membeli. Apalagi di Indonesia komunitas-komunitas penghobi reptil menjamur.
Dari forum-forum di dunia maya maupun kopi darat antarpenghobi reptil ini bisa jadi anak komodo tersebut diperdagangkan.
“Ini yang menjadi problem. Banyaknya komunitas-komunitas penggemar reptil ini memicu diperdagangkannya reptil-reptil yang dilindungi negara. Pemerintah sudah seharusnya mulai menertibkan,” ungkap Rosek.
Menurut dia, Pemerintah perlu menertibkan karena tidak diketahui secara jelas apakah reptil-reptil yang dperdagangkan merupakan hasil pengembangbiakkan, buruan, atau dari pasar gelap.
Apalagi hingga saat ini belum ada lembaga kontrol di Indonesia yang mengatur hal-hal tersebut.
Sebagai gambaran, berdasarkan pengamatan Pro-Fauna sepanjang 2011 ini saja, sudah ada 50 kasus perdagangan reptil lewat dunia maya yang dianggap ilegal.
Pelanggaran itu bukan karena mereka menjual reptil via online, namun obyek yang diperdagangkan yaitu reptil-reptil yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990.
“Pelanggarannya bukan perdagangan online-nya, namun materi yang diperdagangkan yaitu reptil-reptil yang dilindungi seperti ular atau biawak juga komodo,” ujar Rosek.
Selain untuk pasar dalam negeri, lanjut Rosek, anak komodo bisa dijual ke luar negeri untuk melengkapi koleksi kebun binatang pribadi. “Apalagi permintaan akan hewan-hewan asli Indonesia di luar negeri juga tinggi,” katanya.
(Anton Suhartono)