JAKARTA – Semasa hidupnya, Soeharto dikenal sebagai sosok orang tua yang sangat mencintai anak-anaknya. Saking sayangnya, Soeharto kerap mengajak keluarga saat menjalankan tugasnya di dalam atau pun di luar negeri.
Namun, tidak banyak orang tahu bahwa Soeharto juga ternyata pernah membuat anaknya sakit hati dan kecewa. Hal ini dialami puteri keempat Soeharto, Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto saat bercerita di buku Pak Harto The Untold Stories.
Perasaan kecewa Titiek kala itu muncul saat dirinya diwisuda sebagai sarjana ekonomi oleh Universitas Indonesia, tepatnya tahun 1985. Setiap mahasiswa yang diwisuda saat itu selalu didampingi kedua orangtuanya. Namun, hal itu tidak dirasakan Titiek.
“Saya belajar bertahun-tahun berusaha menunaikan tugas saya sebagai anak untuk menyelesaikan pendidikan sampai menjadi sarjana. Semua itu saya lakukan untuk Bapak dan Ibu agar mereka bangga,” keluh Titiek.
Titiek yang berharap dapat didampingi kedua orangtuanya saat wisuda ternyata tak bisa dikabulkan. Walkasil, hanya Ibu Tien yang menyaksikan Titiek dikalungkan piagam kelulusan oleh pihak kampus. Sedangkan Soeharto, tak muncul meski hanya sekejap.
“Betapa kecewa dan sedihnya saya ketika pada hari wisuda yang telah ditetapkan, hanya Ibu yang bisa hadir karena Bapak harus melaksanakan tugas yang sudah jauh hari diagendakan,” tandas perempuan yang lahir di Semarang 14 April 1959 ini.
Rasa kecewa yang dirasakan Titiek ini terus terbawa hingga dewasa. Namun, setelah Indonesia mengalami pergantian kepala negara beberapa kali, Titiek akhirnya menyadari bahwa tindakan Soeharto tersebut menjadi bukti bahwa Soeharto lebih mengedepankan kepentingan bangsa daripada keluarganya.
“Beliau selalu mendahulukan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan keluarga. Dan tidak semua kepala negara memiliki komitmen yang sama seperti Bapak,” pungkasnya.
(TB Ardi Januar)