RUSIA – Sebuah artikel yang dimuat majalah Esquire edisi Rusia membuat gempar dunia pendidikan negeri itu. Pasalnya, majalah ini menampilkan kasus penyuapan di enam sekolah kedokteran Rusia.
Esquire memaparkan kisah sembilan mahasiswa kedokteran yang membayar profesor mereka agar bisa lulus ujian.
Kasus penyuapan di dunia pendidikan memang bukan hal baru di Negeri Beruang Merah. Jajak pendapat yang dilansir Lembaga Opini Publik (POF) pada Mei lalu menunjukkan, sebanyak 17.500 responden mengidentifikasi pendidikan tinggi sebagai sektor yang paling korup dalam kehidupan publik. Namun kisah mengenai penyuapan yang dilakukan secara langsung oleh calon dokter, calon dokter gigi, dan calon ahli, langsung memicu kegemparan.
Salah satu universitas terkenal yang diduga melakukan praktek penyuapan adalah IM Sechenov First Moscow State Medical University. Mahasiswa menggambarkan praktek menyuap di kampus ini sudah merajalela. Mahasiswa mengaku tidak aneh jika teman mereka dengan santai memberikan uang kepada profesor sebesar 1.000 rubel atau setara dengan Rp304 ribu (Rp304 per satu rubel).
Vladimir, seorang mahasiswa tahun ketiga mengaku, sebelum ujian, ibunya memberikan dia uang USD200-USD450 atau setara dengan Rp1,7 juta-Rp3, 8 juta kepada anggota fakultas. Sebagai gantinya, profesor membantu agar nilainya baik. Demikian seperti dikutip dari Chronicle, Kamis (14/7/2011).
Salah satu ‘ladang’ penyuapan adalah kelas privat. Mahasiswa yang kemampuan akademisnya buruk, boleh mengikuti kelas privat. Untuk mendapatkan nilai, mahasiswa harus mengambil 10 pelajaran privat dan membayar profesor untuk setiap sesi. Alih-alih membatasi suap, sistem ini malah menjadi ‘alat mujarab’ untuk praktek korup.
Untuk lulus ujian anatomi tahun lalu, mahasiswa bernama Misha harus mengambil kelas ekstra dari profesor mereka. Secara resmi, setiap kelas memungut biaya sekitar 1.000 rubel, tetapi profesor justru mengenakan 2.500 rubel kepada siswanya.
"Dia (profesor) tidak memberi kami pengetahuan apapun, hanya memberi kami pertanyaan selama setengah jam, kemudian membuka saku pada jas putihnya, sehingga kami bisa memasukkan 50 euro atau 1.000 rubel,” kata Misha.
Setelah artikel ini muncul, Kementerian Kesehatan Rusia langsung memanggil kampus First Medical. “Rektor kami dan rektor dari tiga universitas Moskow lainnya diundang oleh Kementerian Kesehatan untuk membahas cara memerangi korupsi," kata Wakil Rektor First Medical Igor N. Denisov. Namun tidak dijelaskan usulan apa yang dia ajukan dalam pertemuan itu.
Denisov tidak menyangkal praktek penyuapan terjadi di institusinya. Namun dia dan Rektor Petr V. Globychko telah mencoba untuk melawan ‘tradisi’ ini. Mereka meminta mahasiswa agar segera memberitahu staf universitas jika ada kejadian penyuapan. Menurut Denisov, selama dua tahun terakhir, dua profesor di kampusnya mengundurkan diri setelah dituduh menerima suap.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Rusia mengaku tidak memiliki data mengenai sejauh mana korupsi menganggu pelayanan kesehatan negara ini. Namun mereka berniat memperbaiki masalah ini.
(Rani Hardjanti)