YOGYAKARTA - Badan Nasional Penanggulang Bencana (BNPB) memprediksi ada sekira 90 juta meter kubik material di kawasan Gunung Merapi, namun penanganan material tersebut bukan kewenangan lembaga tersebut.
“Kewenangan pengambilan pasir maupun sisa erupsi Merapi berada di Pemda kabupaten masing-masing wilayah,” tegas Kepala Pusat Data (Humas) BPBN, Sutopo Purwo Nugroho saat dikonfirmasi okezone, Kamis (3/11/2011).
Tumpukan material sisa erupasi Gunung Merapi di bagian selatan yang masuk Kabupaten Sleman, menjadi kewenangan Pemkab Sleman. Material yang berada di sebelah barat yang sudah memasuki wilayah Magelang, Jawa Tengah, juga menjadi tanggung jawab kabupaten tersebut.
Sedangkan, tumpukan material yang berada di sisi timur yang masuk Kabupaten Klaten juga menjadi tanggung jawab kabupaten yang bersangkutan.
“Selain pemerintah daerah, masyarakat juga turut dalam melakukan penambangan material supaya sisa erupsi merapi berkurang,” jelas Sutopo.
Diakui BNPB, meski erupsi sudah setahun, namun banyaknya material di kawasan Merapi berpotensi menjadi banjir lahar dingin saat turun hujan.
“Jika pun turun hujan, namun tidak mungkin semua material itu turun semua. Dam-dam sabo di sungai-sungai yang sudah dikeruk siap menampung material tersebut,” urainya.
Tugas dari BNPB, kata dia, lebih pada perbaikan infratruktur, seperti pembuatan jembatan penghubung. Sedikitnya ada 19 jembatan yang sudah dibangun karena rusak diterjang banjir lahar dingin pasca-erupsi 2010 lalu
“Kita fokus pada peringatan dini, penguatan tebing, perbaikan dam-dam sabo, dan masih banyak lainnya, termasuk pembangunan jembatan,” imbuhnya.
Sebelumnya, BNPB merilisi, dari 140 juta meter kubik erupsi Merapi, diperkirakan masih ada 90 juta meter kubik material piroklastik di lereng gunung.
Sekira 50 persen material berada di lereng selatan yang berpotensi mengalir ke Kali Woro, Kali Gendol, Kali Opak, dan Kali Boyong. Kali-Kali tersebut berada di sisi selatan Gunung Merapi yang sudah masuk wilayah Sleman dan Kota Yogyakarta.
Sisanya 50 persen berada di sisi barat (Magelang) ke Kali Krasak, Kali Putih, Kali Lamat dan Kali Pabelan. Dam sabo yang ada terisi pasir 18,24 juta meter kubik atau 90 persen dari kapasitasnya. Akibatnya, luncuran lahar dingin mudah terjadi saat turun hujan. “Pengatan dini kami sampaikan agar masyarakat mengetahuinya,” jelas Sutopo.
Sementara itu, dampak lahar dingin tahun lalu cukup besar. Tercatat, 28 desa terkena dampak lahar dingin dengan jumlah total rumah rusak sebanyak 861 unit. Dari jumlah itu sebanyak 129 rumah berada di Provinsi DIY dan 732 di Jawa Tengah. Puluhan jembatan hancur diterjang lahar dingin.
(Kemas Irawan Nurrachman)