Kreasikan Tipografi dari Budaya Nusantara

, Jurnalis
Selasa 21 Februari 2012 10:07 WIB
Image: corbis.com
Share :

KEANEKARAGAMAN budaya di Indonesia dapat dikaji mendalam untuk menciptakan kreasi font atau huruf. Apalagi mengingat kekayaan seni yang dihasilkan berbagai suku bangsa di negeri ini dapat menjadi inspirasi apik untuk tipografi.

Langkah ini dilakukan sejumlah mahasiswa Universitas Kristen Petra. Sebanyak 31 mahasiswa mengkaji kebudayaan daerah di Nusantara untuk menciptakan kreasi font atau yang disebut dengan local typeface. Semua hasil karya mereka pun dipamerkan di Perpustakaan UK Petra mulai 13 Februari-14 Maret 2012. Semua karya local typeface ini tergantung di tengah perpustakaan seperti layaknya dalam pameran lukisan.

Di sebuah sisi terdapat sebuah karya yang sangat menarik. Huruf-huruf yang dihadirkan seolah disulap dari tubuh manusia suku Asmat. Bahkan bentuk manusianya tak asing lagi karena mengambil bentuk suku Asmat yang tergambar di ukiran dan pahatan kayu.

Inilah hasil kerja keras Yenny S, salah seorang mahasiswa Desain Komunikasi Visual UK Petra. Ketertarikannya pada Papua membawanya mengkaji kebudayaan lokasi tersebut. Hasil kebudayaan yang menonjol adalah ukiran kayu Suku Asmat. Yenny pun menemukan beberapa fakta seperti tentang penggunaan warna pada ukiran.

"Merah berarti perang, hitam berarti kepala manusia dan putih adalah alam," katanya dalam kajian bukunya.

Semua kajian mengenai kebudayaan ini pun dirangkum dalam sebuah buku besar. Dalam buku ini diceritakan asal muasal font yang tercipta. Yenny pun membubuhkan ukiran ala Suku Asmat dalam font buatannya.

Begitu juga dengan Vania Elaine yang menyuguhkan Parang typeface. Di sini dia mengkaji batik tipe parang yang ada di Kudus. Bahkan selain batik dia juga mempelajari bentuk sebuah situs pancuran wudhu kuno di menara Kudus dan juga jenang khas daerah tersebut.

Dari sinilah Elaine berhasil menciptakan font dengan model yang mirip dengan bentuk batik parang yang dipadu dengan ukiran di situs pancuran dan juga jenang.

Semua karya ini tak lain adalah hasil tugas akhir mata kuliah Tipografi di jurusan DKV UK Petra. Mahasiswa memang sengaja diminta menciptakan sebuah huruf baru dengan mengadaptasi hasil kebudayaan suatu daerah di Indonesia.

"Mahasiswa harus mempelajari kebudayaan yang menonjol untuk dapat mengadaptasikan elemennya dalam penciptaan huruf," kata dosen DKV UK Petra Maria Nala Damayanti.

Namun hasil typeface tak boleh sembarangan. Selain harus memperhatikan sisi estetika mereka juga tak boleh melupakan kaidah dan aturan dalam pembuatan huruf. "Setiap huruf harus dapat dikenali dan terbaca ketika digabungkan dengan huruf lainnya," kata Maria.

Dalam pameran ini yang disajikan adalah satu set huruf besar dan huruf kecil, satu set angka, serta satu set tanda baca. (oktalia ary/koran si)

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya