Selama Kampanye, Kekerasan di Aceh Meningkat Tajam

Salman Mardira, Jurnalis
Rabu 04 April 2012 05:00 WIB
Ilustrasi
Share :

BANDA ACEH - Kasus kekerasan di Aceh meningkat tajam selama masa kampanye Pemilukada 2012. Dua LSM lokal, The Aceh Institute dan Forum LSM Aceh yang melakukan pemantauan, menemukan 40 kasus kekerasan terjadi dalam dua pekan terakhir.
 
Tindakan kekerasan tersebut 80 persennya terjadi di wilayah pesisir timur Aceh, antara lain di Pidie,  Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Aceh Timur.  Sedangkan untuk kawasan pesisir wilayah barat, aksi kekerasan paling banyak terjadi di kabupaten Aceh Jaya.
 
Sembilan kasus kekerasan di antaranya terjadi di Lhokseumawe, sedangkan di Pidie ditemukan tujuh kasus. Di Aceh Timur dan Aceh Jaya ada enam aksi kekerasan dan di Aceh Timur lima kasus.
 
Hampir semua aksi kekerasan itu melibatkan pendukung tim kampanye para kandidat. Begitu juga di Kabupaten Bireuen juga terdapat tindakan kekerasan sebanyak tiga kasus, menyusul kabupaten Pidie Jaya dengan dua kasus.
 
Analisa kedua lembaga tersebut menemukan adanya korelasi antara tingkat kekerasan yang terjadi selama Pemilukada ini dengan tingkat kerawanan daerah tersebut pada masa konflik. 
 
Dengan kata lain, kawasan yang rawan dalam kekerasan Pemilukada 2012 ini adalah wilayah yang rawan pada masa konflik yang lalu. Semua daerah rawan kekerasan itu juga merupakan basis kekuatan partai lokal.
 
“Kita tahu bahwa kawasan Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur masuk kategori dengan tensi kekerasan yang tinggi pada masa konflik. Pada Pemilukada ini pun, wilayah tersebut sangat rawan dengan aksi kekerasan,” kata Irfandi, asisten Program Manager Pemantau Pemilukada dari Forum LSM Aceh dalam siaran pers diterima okezone, Rabu (4/4/2012).
 
Dari 40 kasus yang berhasil direkam tim pemantau, kebanyakan melibatkan pendukung kandidat atau partai politik. Kekerasan yang terjadi selama Maret ini paling tinggi terjadi pada masa kampanye sejak 22 Maret 2012- dibanding di luar masa kampanye.
 
Dari 40 kasus kekerasan yang ditemukan tim pemantau, 27 kasus di antaranya terjadi pasa masa kampanye.  Kebanyakan dari aksi kekerasan itu terjadi di tempat umum sekira 22 persen.
 
Sebagian besar atau 19 kasus kekerasan terjadi pada dinihari, sehingga menyulitkan Panwas dan Kepolisian mengidentifikasi pelaku. Jumlah pelakunya juga tidak jelas. Sementara untuk tindakan kekerasan yang teridentifikasi, biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh dua hingga lima pelaku.  Korban kekerasan paling banyak ditujukan kepada pendukung kandidat.
 
Kerugian harta benda akibat kekerasan ini paling banyak karena ada 25 kasus kekerasan yang ditemukan berupa pengrusakan harta benda milik pendukung kandidat. Sedangkan yang mengarah kepada fisik pribadi ditemukan sebanyak delapan kasus.
  
The Aceh Institute dan Forum LSM Aceh menuntut para pihak berwenang untuk segera mengusut dan memberi tindakan tegas kepada para pelaku kekerasan yang mengganggu pelaksanaan Pemilukada di Aceh.
 

(Insaf Albert Tarigan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya