Pengamat : Ical Enggak Cocok RI-1, Cocoknya RI-2

Bagus Santosa, Jurnalis
Kamis 26 April 2012 07:59 WIB
Foto: okezone
Share :

JAKARTA - Calon presiden lebih baik diseleksi lebih dahulu di dalam partai agar tidak dimonopoli oleh ketua umumnya yang berhasrat juga untuk memimpin Indonesia.

"Idealnya (untuk penetapan capres) adalah yang banyak memunculkan calon dan demokratis di internal partai dan tidak melalui monopoli ketum," kata pengamat politik Universitas Indonesia Adrinof Chaniago saat berbincang dengan okezone, Rabu (25/4/2012) malam.

Seperti Partai Golkar, Adrinof mencontohkan, ketua umumnya memang berambisi untuk memimpin Indonesia. Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie atau yang akrab disapa Ical, menurutnya tidak sepantasnya memonopoli hal itu. Ical bagi Adrinof, lebih cocok memantau partainya dari belakang atau jika ingin memimpin republik ini, Ical lebih cocok berada menjadi orang ke-2 republik ini.

"Menurut saya, Ical seandainya berada di papan atas sekalipun dan dicalonkan dari partainya, saya perkirakan sulit menang di pilpres. Kalau mau realistis lebih baik dia sebagai penentuan calonnya saja, king maker, pengatur pemainan. Dia bukan calon, dia yang menentukan, itu posisi yang pas buat dia," jelas Adrinof.

Dari rekam jejak Ical yang ada, termasuk kasus Lapindo, Ical lebih cocok menjadi wakil Presiden ketimbang jadi Presiden. Dalam hitungan-hitungannya, untuk pencalonan presiden, Partai Golkar sulit mendapatkan posisi RI-1.

"Karena trakrekod, juga karena menilai sosoknya tidak cocok untuk nomor satu. Kalau mau, golkar mengejar untuk RI 2, itu kan ga mungkin untuk Ical, kecuali kalau Ical mau. Nah kalau RI-2 menang, kenapa ngggak itu yang diincar,"  jelas Adrinof.

(Carolina Christina)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya