AKTIVITAS lalu lintas di Jakarta lumpuh dalam beberapa jam, Rabu kemarin. Pemadaman listik yang dilakukan Perusahaan Listrik Negara (PLN) menjadi pemicunya. Pemadaman tersebut terpaksa dilakukan karena Interbus Transformer (IBT) di Gardu Induk Gandul mengalami gangguan.
Setiap alasan bisa disampaikan untuk meredam kekecewaan akibat listrik padam. Tapi, PLN seharusnya bisa meminimalisir kejadian serupa yang membuat aktivitas warga Jakarta dan sekitarnya kacau. Tentu PLN tahu bagaimana mengantisipasi agar byar pet atau menyala dan padam secara berulang-ulang tidak terjadi.
Kenyataannya, kejadian seperti ini kerap terulang. Ada kerusakan gardu atau sejenisnya selalu dijadikan kambing hitam. Padahal, kerusakan tersebut bisa dihindari bila ada pengawasan atau pengontrolan yang rutin dari PLN. Bukan baru bertindak saat terjadi persoalan besar.
Dalam kurun enam bulan terakhir sudah beberapa kali terjadi pemadaman listrik. Berbeda kondisinya ketika Dahlan Iskan memimpin PLN, satu tahun silam. Dahlan merealisasikan janjinya bahwa listrik tidak byar pet selama kepempinannya.
Kerja keras Dahlan tersebut rupanya tidak bisa dipertahankan penerusnya. Sejak Dahlan dilantik sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), 17 Oktober 2011, listrik mulai byar pet lagi. Kejadian seperti ini tentunya menimbulkan kerugian sangat besar, terlebih bagi para pelaku usaha.
Bukan hanya itu, tapi arus lalu lintas di Jakarta menjadi kacau balau. Pasalnya, sebagian lampu lalu lintas di jalur utama juga ikut mati. Kondisi ini bahkan terjadi dalam beberapa jam. Karuan saja di setiap persimpangan jalan terjadi penumpukan kendaraan dan tidak bisa bergerak.
Beberapa pemadaman listrik ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi Dahlan selaku pimpinan tertinggi di semua perusahaan yang berstatus BUMN. Harus dicari solusi tepat dan cepat agar pemadaman tidak terulang, meski terjadi gangguan seperti yang kerap dijadikan alasan utama.
Dahlan juga harus melakukan hal serupa kepala manajemen PLN seperti apa yang ditunjukkannya ketika melihat terjadi antrean panjang di pintu masuk tol. Dalam kasus ini, Dahlan juga harus berani menjewer PLN agar bekerja maksimal sesuai harapan yakni tidak ada lagi byar pet.
Hingga kini, Dahlan memang belum menjewer manajemen PLN akibat lemahnya kontrol dan pengawasan terhadap infrastrukturnya. Padahal, kondisi infrastruktur yang baik menjadi motor utama bagi PLN dalam memberikan pelayanan maksimal bagi masyarakat. Jangan sampai ada klaim Dahlan sungkan menegur PLN karena menjadi bendera yang mengantarnya ke kursi Menteri Negara BUMN.
Bukan mustahil, masyarakat kembali mengalami gelap gulita dan kekacauan di jalan raya akibat listrik padam. Mulailah menjewer PLN Pak Dahlan atau byar pet menjadi rutinitas di negara ini.
(Fetra Hariandja)