AJAKAN Ketua MPR Taufiq Kiemas agar tokoh politik senior menyiapkan generasi muda untuk running dalam Pilpres 2014 pantas didukung. Ajakan itu cerminan sikap kenegarawan seorang Taufiq Kiemas. Dia sadar benar bahwa saatnya generasi muda ambil peranan lebih demi kemajuan bangsa di masa depan.
"2014 adalah masanya kaum muda berkualitas memimpin. Tokoh senior dari parpol maupun nonparpol sebaiknya legawa lebih berperan sebagai king maker dan menyiapkan salurannya. Kita cari sejumlah figur muda ideal yang dinilai terbaik dan layak. Kita jadi fasilitator," demikian nukilan pernyataan TK, panggilan akrab Taufiq Kiemas.
TK sepertinya sadar betul bahwa sejumlah nama capres yang saat ini bermunculan masih didominasi oleh politikus senior. Padahal dalam pandangannya, Indonesia sudah semestinya dipimpin oleh anak muda. Setengah bercanda, TK pernah berujar, bahwa sangat ironis jika nantinya Indonesia dipimpin oleh Presiden yang sudah berusia di atas 70 tahun.
TK pun menyatakan tokoh senior tinggal mendorong munculnya generari muda, kemudian mendukungnya. Namun, situasi akan "kisruh", jika tokoh senior setengah hati, sehingga ketika muncul generasi muda memimpin, mereka justru bermanuver untuk menjegalnya.
Tentunya saja angin segar dari pemikiran orisinal seorang TK pantas mendapat respons. Partai politik sebagai instrumen utama rekrutmen politik sepatutnya untuk memikirkan ajakan ini. Bagaimanapun parpol memiliki kewajiban untuk menyiapkan pimpinan nasional untuk menjaga kesinambungan pembangunan negeri ini.
Kenapa mesti generasi muda? rupanya pemikiran TK ini sejalan dengan kondisi real demografi di Tanah Air. Mayoritas pendudukan Indonesia saat ini adalah usia muda. Inilah yang disebut dengan demography bonus. Banyaknya penduduk usia muda, jika dikelola secara baik dan tepat, sudah pasti akan menjadi modal utama bagi bangsa ini untuk makin maju meninggalkan negara-negara lain seperti Amerika dan Eropa yang kini banyak ditinggali oleh penduduk berusia tua.
Namun situasi negeri ini akan tidak "terkontrol" jika potensi anak muda yang penuh semangat dan produktif tidak bisa dioptimalkan. Dua mata uang generasi mudah adalah, destruktif dan konstruktif. Inilah alasan utama bagaimana generasi muda harus mulai diberikan peranan lebih. Tujuannya jelas, agar antara pemimpin dan yang dipimpin memiliki "frekuensi" yang sama, sehingga segala kebijakan dan policy yang dikeluarkan bisa connect. Bahasa sederhananya, obrolannya nyambung.
Tidak hanya itu, dengan dipimpin oleh anak muda, maka potensi bangsa ini makin berkibar sangat terbuka. Generasi muda akan sangat adaptif terhadap segala perubahan yang ada.
Kini, kita semua menantikan sikap kenegarawan dari tokoh-tokoh senior. Saatnya mereka legawa untuk menyiapkan kader mudanya memimpin. Saatnya jalan dibentangkan, arah ditunjukkan, ikut membantu atasi rintangan yang mungkin ada. Jikalau itu terjadi, maka bergembiralah seluruh anak negeri.
(M Budi Santosa)