Skandal Korupsi Kapal Selam Gemparkan Malaysia

Fajar Nugraha, Jurnalis
Senin 02 Juli 2012 11:21 WIB
Kapal selam Malaysia yang dibeli dari Prancis (Foto: AFP)
Share :

KUALA LUMPUR - Skandal korupsi pembelian kapal selam yang disertai kasus pembunuhan seorang perempuan, kembali mencuat di Malaysia. Skandal ini melibatkan mantan penasihat Perdana Menteri Malaysia Najib Razak.

Kasus ini terkait dengan pembelian kapal selam jenis Scorpene oleh Malaysia dari pihak Prancis. Diduga, pembuat kapal selam tersebut, DCNS, membayar komisi sebesara 114 juta euro atau sekira Rp1,35 triliun (Rp11.849 per euro) kepada perusahaan yang diduga memiliki kaitan dengan Abdul Razak Baginda.

Pihak oposisi Malaysia mengklaim uang tersebut digunakan sebagai uang pelicin agar pembelian dua kapal selam kelas Scorpene milik Prancis berhasil. Pembelian dua kapal tersebut diperkirakan mencapai USD1,1 miliar. Demikian diberitakan AFP, Senin (2/7/2012)

Abdul Razak Baginda yang saat kesepakatan tersebut menjabat sebagai penasihat militer PM Najib Razak, terlibat dalam kasus lain yang masih terkait dengan pembelian kapal selam itu. Dirinya dituduh membunuh seorang model yang juga dikenal sebagai perempuan simpanannya.

Altantuya Shaariibuu yang saat negosiasi perjanjian bertindak sebagai penerjemah, menuntut uang tutup mulut dalam kesepakatan tersebut. Tetapi model tersebut ditemukan tewas tertembak dan jasad diledakan dengan bahan peledak pada 2006 silam.

Meski diyakini bersalah, Abdul Razak justru dibebaskan dari tuduhan pembunuhan terhadap Altantunya. Keputusan ini memicu kecaman dari pihak oposisi yang menyebutkan bahwa pihak penguasa berusaha menutupi kasus yang menyelimuti Razak. Pihak oposisi pun menuntut dilakukan penyelidikan ulang atas kasus tersebut.

Peristiwa itu kembali menjadi sorotan setelah hakim di Prancis membuka penyelidikan baru April lalu. Penyelidikan baru dilakukan setelah adanya laporan dari kelompok LSM HAM Malaysia, Suaram, melalui pengacaranya Joseph Breham.

Sejak saat itu, media di Malaysia makin gencar memberitakan adanya bukti baru yang dimiliki oleh Suaram. Bukti itu termasuk adanya informasi rahasia Kementerian Pertahanan Malaysia yang dijual kepada anak perusahaan DCNS, Thales, untuk memuluskan perjanjian. Ketika kesepakatan ini disetujui, PM Najib masih menjabat sebagai Menteri Pertahana Malaysia pada 2002 lalu.

(Fajar Nugraha)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya