BERMULA dari keinginan membantu teman-teman sesama mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, lima mahasiswa ini berhasil membuat kamus kedokteran berbahasa Jawa.
Mereka adalah Mariana Ulfa, Birrul Qodriyyah, Mutik Sri Pitajeng, Nurul Abdul Aziz dari Fakultas Kedokteran dan Muhammad Fikru Rizal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Mereka tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Kamus yang sengaja dibuat kecil agar mudah dibawa ke mana-mana ini sangat membantu para dokter muda, khususnya dari luar Jawa untuk memahami bahasa pasien. Tujuannya, agar tidak terjadi kesalahpahaman bahasa sehingga kemungkinan terjadi kesalahan pendiagnosaan penyakit pasien yang berujung kesalahan peresepan.
"Awalnya kami mendengar banyaknya keluhan dari teman-teman, apalagi saat melakukan ko-as di rumah sakit. Kebanyakan pasien yang berobat, utamanya yang sudah lanjut usia selalu menggunakan bahasa Jawa untuk menerangkan keluhan sakit mereka. Padahal kebanyakan dari mahasiswa di FK UGM berasal dari luar Jawa," ungkap salah satu penggagas kamus bahasa Jawa, Mutik Sri Pitajeng, kemarin.
Tak hanya membantu para mahasiswa luar Jawa, kamus ini juga sangat berguna bagi mahasiswa luar negeri yang mengikuti program internasional di FK UGM. Penyusunan kamus kedokteran berbahasa Jawa ini dimulai Februari 2012 dan pertama kali dicetak Mei lalu. Kamus ini sengaja disusun tidak berdasarkan huruf abjad, tapi berdasarkan bagian tubuh manusia dari bagian atas.
"Dengan dilengkapi gambar, kami mengupas kata per kata mengenai organ tubuh manusia, termasuk keluhan yang biasanya dirasakan pasien," ungkap Mutik.
Untuk tiap keluhan pasien, terdapat dua bahasa, yakni Jawa dan Indonesia. Bahasa Jawa yang tertera pun ada dua, yakni dalam bahasa Jawa ngoko dan krama inggil. Untuk bagian tubuh, sedikit berbeda karena selain menyertakan bahasa Jawa dan Indonesia, juga bahasa Inggris dan bahasa latin (dalam dunia medis).
"Kami baru mengumpulkan 250 kata dalam kamus ini yang kami rasa paling sering terlontar dari pasien. Dalam penyusunannya, kami menemui para pasien, para dokter yang melayani, dan kami lengkapi dari para pakar bahasa Jawa sendiri dan studi literatur," ungkapnya.
Mahasiswi lain, Mariana Ulfa menambahkan, untuk sementara kamus kedokteran berbahasa Jawa ini hanya dijual di Yogyakarta dengan harga Rp50 ribu. Masyarakat luas atau mahasiswa yang membutuhkan kamus ini telah dapat memperolehnya di toko-toko buku umum. Sampai saat ini telah ada sekira 70–100 eksemplar yang digunakan mahasiswa FK UGM sendiri.
"Tak hanya menerangkan per kata, di kamus ini juga kami sajikan bab khusus mengenai kalimat percakapan agar lebih mudah dipahami. Selain itu, kami memberikan tips komunikasi bagi para dokter yang kami singkat menjadi 2S+SAJI yakni Sopan santun Sikap terbuka + Salam Ajak bicara Jelaskan dan Ingatkan," papar Mariana.
Tujuan lain dari pembuatan kamus ini, mereka ingin melestarikan bahasa Jawa. Ke depannya, isi kamus ini akan semakin dikembangkan dengan penambahan kosakata dan beberapa revisi. Selain itu, mereka sudah mulai memikirkan kamus kedokteran dengan bahasa daerah yang lain. (ratih keswara/koran si)
(Rifa Nadia Nurfuadah)