DAMASKUS - Situs pro-Pemerintah Suriah mengklaim, Suriah melakukan pembunuhan terhadap mantan Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat (AS) Pangeran Bandar bin Sultan. Pangeran Bandar saat ini juga menjabat sebagai Kepala Intelijen Arab Saudi.
Menurut laporan itu, Pangeran Bandar dibunuh karena mendukung AS dalam mengorganisir pengeboman di Kota Damaskus pada 18 Juli lalu. Pengeboman itu menewaskan dua orang pejabat senior Presiden Bashar al Assad dan ipar Assad.
Bandar dituding memasok perlengkapan logistik dari Dinas Intelijen AS (CIA) ke Suriah. Lewat peristiwa itu, Bandar dianugerahi jabatan sebagai Kepala Intelijen Arab Saudi pada 24 Juli. Namun bandar terbunuh dalam serangan balas dendam pada 26 Juli.
Namun menurut laporan dari Barat, Bandar sudah ditunjuk menjadi kepala intelijen pada 19 Juli, tepat setelah ledakan di Kota Damaskus terjadi. Laporan itupun dinilai sebagai laporan yang kredibel.
"Bandar merupakan seorang yang cukup agresif dan tidak tampil seperti diplomat Arab lainnya yang selalu berhati-hati. Bila memang dirinya berniat untuk menjatuhkan Bashar al Assad dengan cepat, dia bebas untuk melakukan apapun bila perlu. Bandar sangat senang bila menerima tugas yang menurutnya cocok dengan kemampuannya," ujar pengamat Arab Saudi Jamal Khashoggi, seperti dikutip Reuters, Selasa (31/7/2012).
Salah seorang pengamat menilai, meski klaim itu benar, hal itu menunjukkan adanya permusuhan yang sengit antara Suriah dan Arab Saudi. Laporan pembunuhan itu pun langsung dikutip oleh sejumlah portal berita di Israel.
Arab Saudi merupakan mitra terdekat dari AS dan merupakan pendukung setia bagi oposisi Suriah yang berjuang untuk menumbangkan Assad. Arab Saudi juga mulai mendekatkan diri ke AS, setelah mengecam peristiwa Arab Spring.
(Aulia Akbar)