SOLO- Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, angkat bicara setelah dua jebolannya diduga terlibat aktivitas terorisme, yakni Farhan Mujahid dan Muchsin Tsani.
Direktur Pesantren Al Mukmin Ngruki, Ustaz Wahyuddin, mengaku tidak mengetahui apa penyebab jebolan ponpesnya itu melakukan aksi teror. Ada banyak alasan kenapa kedua orang itu melakukan aksi teror, salah satunya balas dendam atau kisas.
"Barangkali di luar ponpes keduannya salah pergaulan. Di Ponpes, keduannya tidak saling kenal, mungkin baru di luar ponpes mereka saling kenal. Kemudian, timbul dendam dan menuntut pembalasan dengan menembaki polisi yang dianggap telah membunuh orang-orang yang telah ditembak mati polisi. Pembalasan yang dilakukan juga kepada polisi secara kelembagaan," kata Wahyuddin.
Karena itu, Wahyuddin berharap, ke depan polisi, khususnya Densus 88 Antiteror, tidak lagi menggunakan cara-cara represif dan gampang menghilangkan nyawa orang-orang yang dicurigai melakukan teror. Idealnya, orang-orang yang dicurigai, ditangkap dalam keadaan hidup-hidup.
"Dengan begitu maka akan bisa ketemu obat yang tepat untuk mengurai akar persoalannya. Kalau ditembak mati seperti itu akan menimbulkan sakit hati dan dendam kesumat di kemudian harinya,” pungkasnya.
Wahyudi melanjutkan, bisa jadi mereka terdesak kebutuhan ekonomi, sehingga mereka nekat melakukan apa pun.
“Saya kira itu hanya anak-anak ingusan, pendek nalar, dan emosional saja. Mungkin juga ada motif main-main, frustasi, putus asa, ekonomi, atau mungkin juga karena kondisinya lalu ingin menunjukkan eksistensi menyampaikan pesan bahwa 'aku masih ada'. Wallahu a'lam," ujar Wahyuddin.
(Kemas Irawan Nurrachman)