NAYPYIDAW - Sekelompok pemuka agama Budha di Arakan, Myanmar, menyebut simpatisan warga Rohingya sebagai seorang pengkhianat bangsa. Ketegangan baru pun dikabarkan kembali memuncak antara warga Rohingya dan pribumi Arakan.
Para pemuka agama di Arakan, menggelar konferensi solidaritas dan mengajak warga pribumi mendistribusikan foto-foto bagi warga yang menjadi mendukung warga minoritas Rohingya. Para pemuka agama itu berniat membangun badan keamanan yang ditujukan untuk menjaga kedisiplinan dan terus mendukung pengusiran warga Rohingya dari Myanmar.
"Presiden Thein Sein sudah mengatakan dengan jelas, isu Arakan tidak boleh dipandang sebagai isu agama. Namun bila ada pihak yang menjadikan masalah ini sebagai isu konflik agama, mereka adalah para pemuka agama Budha," ujar Direktur Arakan Project Chris Lewa, seperti dikutip DVB, Selasa (23/10/2012).
"Warga pribumi Arakan sangat takut dengan komunitasnya, bila mereka diketahui sedang mengulurkan bantuan ke warga Muslim," imbuhnya.
Tepat pada hari ini, kerusuhan baru pun muncul dan menewaskan tiga orang warga. Kerusuhan itu terjadi antara warga Rohingya dan warga pribumi Arakan. Ratusan rumah kembali dibakari dan perseteruan itu sudah melibatkan dua desa.
"Kami mendapat informasi, tiga orang yang tewas adalah satu orang warga etnis pribumi Arakan dan dua orang warga Muslim di Desa Pandeinkone. Lebih dari 300 rumah dibakar," ujar Kepala Kehakiman Arakan Hla Thein.
(Aulia Akbar)