JAKARTA - Ketua Umum Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB) Yenny Wahid mengaku salah satu alasan tidak bergabung ke Partai Demokrat karena partai binaan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu banyak tersangkut kasus korupsi.
Hal itu baru dikatakan Yenny dalam akun Twitternya @yennywahid pada Rabu (17/4/2013) malam. "Persepsi publik saat ini thdp partai Demokrat memang tdk bgs, itu menjadi salah satu pertimbangan teman2 u/ saya tdk bergabung," tulis Yenny.
Putri sulung Abdurahman Wahid itu mengatakan bahwa kasus korupsi yang menjerat Partai Demokrat dan partai-partai lainnya menjadi shock therapy dalam rangka memperbaiki diri.
"Kasus2 korupsi kmrn bisa menjadi shock therapy untuk Partai Demokrat dan partai2 lain u/ memperbaiki diri," kata Yenny.
Menurut Yenny, maraknya politikus muda yang melakukan tindak pidana korupsi lantaran adanya budaya dalam masyarakat keinginan untuk cepat sukses.
"Politisi muda bnyk yg korup, ini sebagian besar krn culture, culture cepat kaya, cepat berkuasa. Sistem juga punya peran besar," pungkasnya.
Yenny berpesan agar para generasi muda untuk lebih bangga para proses kerja keras dibanding mengejar hasil yang besar namun dengan cara yang salah.
Sebelumnya, dalam jumpa pers di kantor DPP PKBIB, Selasa 16 April 2013 Yenny Wahid mengatakan batal bergabung dengan Partai Demokrat karena tak direstui oleh sembilan kiai sesepuh Nahdatul Ulama (NU).
"Hasil sowan ke sembilan sesepuh itu yaitu agar kami berada di luar saja," ujar Yenny.
Selain tak direstui oleh sembilan kiai, alasan lain Yenny batal bergabung lantaran tawaran dari partai berlambang bintang mercy itu telat.
Yenny menjelaskan bahwa saat ini sejumlah kader PKBIB banyak yang sudah mengurus proses untuk maju sebagai calon legislatif ke sejumlah partai politik. Sehingga, lanjut Yenny, tak elok jika dirinya tetap berada di salah satu partai.
Selain itu, sambung Yenny, alasan lain menolak tawaran bergabung adalah karena dia ingin mendukung penuh perjuangan sang suami yang ingin maju sebagai calon legislatif dari Partai Gerindra di Pemilu 2014 mendatang.
(Tri Kurniawan)