CIANJUR – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita sebuah villa Nomor 24 di Kampung Pasekon Loji, RT02/17, Desa/Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Villa tersebut diketahui milik mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), yang menjadi tersangka kasus korupsi dan pencucian uang dalam kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian.
KPK menyita villa dengan nomor Sprint Sita-29/01/03/2013 Tanggal 25 Maret 2013, menggunakan papan yang dipasang di pagar villa mewah itu. Villa tersebut berdiri di atas tanah seluas 412 meter persegi atas nama pemilik tanah dan bangunan, Hilmi Aminudin.
Kepala Dusun setempat, Apip Abdullah, membenarkan jika villa milik Lutfi Hasan Ishaaq atas nama Hilmi Aminudin disita KPK beberapa waktu lalu. “Iya benar, villa itu disita KPK beberapa waktu lalu,” kata Apip, Sabtu (1/6/2013).
Salah seorang warga Kampung Pasekon Loji, Ipa Solihat (50), mengaku terkejut dengan pemasangan plang penyitaan tersebut. Pasalnya, dia tida menyangka jika pemiliknya adalah tersangka kasus korupsi.
“Setelah pemiliknya meninggal, rumah itu kosong tidak dihuni lagi. Katanya sih dijual tapi tidak tahu siapa yang membelinya,” kata Ipa, yang rumahnya berada tepat di samping villa tersebut.
Kata dia, rumah tersebut dipasang plang penyitaan oleh KPK pada Jumat 31 Mei. “Waktu itu saya pulang kerja sekitar pukul 17.00 WIB, dan di depan rumah itu sudah terpasang plang KPK. Sebelumnya tidak ada,” ujarnya.
Dia menjelaskan, rumah yang disita KPK tersebut sebelumnya milik salah satu tokoh masyarakat di Kampung Pasekon Loji, yakni almarhum Zaenal. Rumah tersebut, kata dia, kerap disewakan setelah tidak dihuni pemilik aslinya. Biasanya, lanjut Ipa, rumah yang disewakan dengan harga Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per hari itu ramai ketika hari libur atau hari raya Idulfitri.
Namun, dia mengaku tidak hafal wajah para penyewa rumah tersebut. Bahkan, dia pun tidak pernah bertemu secara langsung dengan LHI yang ternyata menjadi pemilik rumah tersebut.
“Yang menyewa rumah itu memang banyak. Tapi paling sering yang datang ke rumah itu orang-orang yang berpakaian muslim dan berjilbab. Tapi tidak tahu kegiatan yang dilakukan di rumah itu,” ujarnya.