SOLO - Guru Besar Emiritus Universitas Kokushinkan, Masakatsu Tozu yang kini juga menjadi Penasehat Pusat Studi Jepang di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta ternyata pemburu batik Indonesia.
"Saya memang mengagumi batik tulis Indonesia. Sejak 1979 hingga saat ini koleksi saya sudah sekira 3.500 lembar," ujar Masakatsu saat bertemu wartawan, di Kantor Pusat Studi Jepang UNS, Solo, Jawa Tengah, Selasa (16/7/2013).
Masakatsu mengaku kegemarannya memburu batik sekaligus mengkoleksinya, tidak lepas dari ibunya yang berprofesi sebagai pengrajin batik kimono Jepang. Ditambah lagi sejak kecil sudah terbiasa membuat motif batik di kimono.
Pria kelahiran Kyoto Nishijin Jepang pada 2 April 1942 datang ke Indonesia saat bersama rombongan mahasiswa berkunjung datang ke Jakarta pada 1970. Saat kunjungan di Indonesia, ia sempat singgah di Yogyakarta.
"Saat berada di Yogya, saya terpikat dengan kain batik yang dipakai seorang perempuan yang sedang menaiki becak. Begitu pula saat singgah di Bali, kembali tertarik kain batik yang dikenakan perempuan Bali saat mengikuti sajian tradisi Bali. Sejak saat ini, saya sering berkunjung ke Indonesia," ungkap Masakatsu.
Masakatsu mengaku, seringnya berkunjung di Indonesia, mulai saat itulah dirinya mulai tertarik berburu batik tulis Indonesia untuk koleksi.
Awalnya ia membeli selembar kain batik bermotif Wahyu Tumurun seharga Rp1,5 juta. Kemudian berlanjut hingga kini telah berjumlah sekira 3.500 lembar batik.
Jumlah itu, ia dapatkan dari berbagai daerah di Indonesia, mulai Solo, Yogyakarta, Bali, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan sebagainya. "Bagi saya, motif batik Indonesia. memiliki arti filosofi mendalam," pungkasnya.