TOKYO - Dinas intelijen Amerika Serikat (AS) National Security Agency (NSA) yang saat ini menjadi sorotan dalam kasus penyadapan pemimpin dunia, diduga meminta bantuan Jepang untuk menyadap China. Namun permintaan NSA ditolak oleh Jepang.
Pendekatan yang dilakukan oleh NSA kepada Jepang terjadai pada 2011 lalu. Saat itu, AS ingin mengumpulkan informasi lengkap tentang China. NSA pun bermaksud melakukan penyadapan melalui kabel optik yang menghubungkan Jepang dan China, serta negara Asia Timur lainnya.
"Setelah melihat penyadapan itu tidak memiliki kekuatan hukum dan kekurangan personel, pihak Jepang pun menolak permintaan NSA," ujar seorang sumber kepada The Japan Times, Senin (28/10/2013).
"NSA mendesak untuk diberikan akses komunikasi data, termasuk di antaranya aktivitas internet dan panggilan telepon," lanjutnya.
Laporan terbaru ini menambah panjang deretan laporan penyadapan yang dilakukan NSA di luar wilayah Amerika Serikat. Sebelumnya, NSA diduga melakukan penyadapan terhadap 35 orang pemimpin dunia. Media Inggris Guardian mengaku memiliki dokumen yang menyebutkan NSA memegang 200 nomor telepon, termasuk puluhan perdana menteri dan presiden.
Di antara pemimpin dunia yang disadap adalah Kanselir Jerman Angela Merkel. Pihak NSA membantah bila Presiden Barack Obama mengetahui penyadapan yang dilakukan terhadap Merkel.
Juru Bicara NSA Vanee Vines mengatakan, "Direktur NSA Keith Alexander tidak membicarakan dengan Presiden Obama mengenai kegiatan intelijen terhadap Kanselir Jerman Angela Merkel pada 2010".
Pihak Gedung Putih juga memberikan pembelaan serupa. Mereka menegaskan tidak pernah memonitor ponsel Merkel, tidak akan pernah di masa depan.
(Fajar Nugraha)