JAKARTA- Fenomena geng motor kembali mencuat pascapenyerangan Geng Tangky Boys di warnet "De Cornet" di Pasar Kecapi, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Sepuluh anggota geng motor itu, membacok penjaga warnet dan merampas handphone milik pengunjung Warnet.
Tak hanya itu, geng motor tersebut juga merampas motor milik pengendara yang sedang melintas.
Menurut Sosiolog Raphy Uli Tobing, aksi brutal geng motor itu merupakan salah satu bentuk untuk mencari perhatian. "Mereka ingin menantang otoritas dalam hal ini aparat dan warga," kata perempuan jebolan Alumnus Columbia University itu kepada okezone, Kamis (20/2/2014).
Uli mengungkapkan, geng motor tersebut tidak pernah memilih calon korbannya. Mereka beraksi tanpa memilih-milih. "Mereka senang kalau dikejar-kejar aparat. Saya melihat geng motor ini cenderung lebih banyak melakukan hal negatif ketimbang positif," ujar dia.
Dia menjelaskan, munculnya geng motor juga dipicu dengan fenomena murahnya harga motor dan juga minimnya ruang berekspresi. "Saat ini motor mudah sekali di dapat dan murah. Mereka berkumpul tapi ruang publik untuk berekspresi minim, yang ada hanya mal, mal, dan mal, " katanya.
Anggota geng motor, kata Uli, kebanyakan, adalah orang-orang yang terpinggirkan. "Bayangkan, mereka sulit memperoleh pekerjaan. Lapangan sepakbola di Jakarta sudah tidak ada semua berubah jadi mal. Mau apalagi mereka. Mau ke Mal juga tidak punya uang, akibatnya mereka mencari pelarian,' katanya.
Sebab itu, Uli menyarankan agar pemerintah kembali membuka ruang terbuka untuk masyarakat seperti taman, atau gelanggang remaja. "Harus diarahkan ke hal-hal positif. Untuk menanggulangi masalah geng motor bukan hanya tanggung jawab polisi, tapi juga masyarakat," katanya.
(Stefanus Yugo Hindarto)