JAKARTA - Penyadapan getah pinus dengan metode bor bukanlah inovasi baru. Meski masih sulit diimplementasikan, metode ini kembali dilirik mengingat semakin sempitnya bidang sadap pohon pinus akibat penyadapan yang berlebihan.
Untuk itu, Peneliti Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Gunawan Santosa melakukan kajian guna meminimalisasi kelemahan metode tersebut. Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan, metode bor mempunyai kenggulan di antaranya pelukaan relatif kecil sehingga kerusakan terhadap pohon dapat diminimalkan dan proses pemulihan luka relatif cepat.
"Getah keluar dari lubang bor dialirkan melalui pipa dan ditampung dalam wadah plastik tertutup. Metode ini menghasilkan getah sangat bersih dan berkualitas tinggi karena pengaruh eksternal sangat kecil," kata Gunawan, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (19/3/2014).
Kekurangannya, ujar Gunawan, pembuatan luka menggunakan bor manual sangat memberatkan bagi penyadap karena memerlukan waktu relatif lama dan tenaga besar. Selain itu, getah hasil sadapan bor ditampung dalam wadah plastik tertutup. Sehingga menyulitkan penanganan pengiriman getah ke pabrik pengolahan karena getah harus dikeluarkan dan ditampung dalam drum besar.
"Perlu tenaga dan waktu khusus untuk melakukan kegiatan ini. Di samping itu, getah yang tertinggal dalam wadah plastik mengurangi produksi getah yang dikirim ke pabrik pengolahan," paparnya.
Menurut Gunawan, perlu dilakukan upaya untuk menyempurnakan metode bor agar dapat diimplementasikan di lapangan. Salah satunya berupa penggunaan alat bor mekanis yang mudah dioperasikan.
Inovasi yang dilakukan Gunawan ialah memodifikasi alat potong rumput dan mengganti attachment pisau potong dengan bor. Alat ini mudah dibawa, mudah dioperasikan, waktu pembuatan bor cepat, namun luka sadap lebih halus dan bersih.
Hal lain yang dilakukannya adalah dengan meniadakan pipa dan wadah plastik. Getah yang keluar dari lubang bor dibiarkan mengalir pada batang pohon dan ditampung wadah (batok kelapa) di bawahnya.
"Kondisi ini meniru cara kerja penyadapan yang selama ini berlaku di lapangan. Dengan cara ini getah yang masih mengalir dari lubang bor yang telah dibuat sebelumnya dapat ditampung di wadah di bawahnya," urai Gunawan.
Metode bor modifikasi Gunawan telah diujicobakan pada 400 pohon contoh tegakan pinus jenuh sadap di kawasan Bopuncur (Bogor, Puncak, dan Cianjur). Pohon yang dipilih adalah pohon yang telah mengalami penyadapan berlebihan sehingga menjadi jenuh sadap. Tingkat kerusakan pohon yang dihitung berdasarkan rasio luas bidang sadapan berkisar antara 4,2-85,5 persen dengan rata-rata 44,6 persen.
"Hasil analisis menunjukkan, interaksi antara jumlah bor dengan periode panen secara statistik tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas getah pinus. Demikian pula jumlah bor yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas getah pinus. Sebaliknya, perbedaan periode panen dan tingkat kerusakan pohon, masing-masing berpengaruh sangat nyata terhadap produktivitas getah pinus," ujarnya.
Meski penelitian tersebut menunjukkan hasil positif, Gunawan mengaku jika masih diperlukan penelitian lanjutan terhadap inovasi bor itu. Salah satunya persoalan periode sadap berpengaruh terhadap produktivitas penyadapan. Sebab, semakin lama periode sadap maka produksi getah akan semakin menurun.
"Perlu dilakukan penelitian untuk menentukan cara pemberian stimulus yang efektif pada penyadapan pinus jenuh sadap dengan menggunakan metode bor," imbuh Gunawan.
(Rifa Nadia Nurfuadah)