JAKARTA - Proses pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun ini diwarnai kontroversi tentang persyaratan fisik. Beberapa kalangan pun menganggap, persyaratan tersebut merupakan diskriminasi terhadap kaum difabel.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Bambang Wibawarta, S.S., M.A. menjelaskan, UI tidak pernah membeda-bedakan mahasiswa penyandang disabilitas dengan mahasiswa lainnya. Begitu juga pada saat seleksi masuk UI. Proses seleksi, kata Bambang, tidak melihat pada keterbatasan fisik calon mahasiswa.
"Ketika mereka (mahasiswa penyandang disabilitas) masuk UI, kami berikan sedapat mungkin kemudahan. Tidak ada diskriminasi," ujar Bambang, seperti dinukil dari laman UI, Senin (7/4/2014).
Di UI, beberapa mahasiswa penyandang disabilitas antara lain pernah atau masih belajar di Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Bambang juga memaparkan, pihaknya berupaya semaksimal mungkin menyediakan akses pendidikan terbaik bagi mahasiswa penyandang disabilitas di UI.
"Contohnya, ketika dalam sebuah kelas terdapat mahasiswa penyandang disabilitas, perkuliahan dapat berlangsung di lantai dasar agar tidak menyulitkan," ujar Bambang,
Demikian halnya dengan pengadaan fasilitas di kampus. UI memiliki printer braille bagi mahasiswa tunanetra.
Wujud komitmen lainnya adalah dengan menyelenggarakan kuliah Bahasa Isyarat. Dalam kuliah ini, sejumlah dosen penyandang tunarungu akan mengajarkan bahasa isyarat kepada mahasiswa UI.
Bahkan, Fakultas Psikologi UI juga siap mendampingi para mahasiswa penyandang disabilitas. Bentuk pendampingan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa.
(Rifa Nadia Nurfuadah)