KUCHING – Peringatan Hari Buruh dipakai buruh di Negeri Jiran untuk bersuara. Serikat pekerja Malaysia Trades Union Congress ( MTUC ) menginginkan kenaikan upah minimum di Serawak agar disamakan seperti di Semanajung Malaysia.
“Kami menyesal meskipun biaya hidup kami lebih tinggi, upah minimum kami hanya 800 Ringgit Malaysia (RM) dibandingkan di semanjung Malaysia yang mencapai 900 RM. Kita harus menghilangkan perbedaan ini dalam waktu mendatang dari upah minimum,” tutur sekretaris MUTC, Andrew Lo, seperti dikutip The Star, Kamis (1/5/2014).
Mereka meminta pemerintah berikan kepastian upah minimum agar para pekerja bisa memenuhi kebutuhan dasarnya.
“Kami sangat percaya bahwa upah minimum yang lebih tinggi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan lebih banyak lagi bisnis perusahaan dan mendorong untuk meningkatkan produktivitas,” tambah dia.
Andrew mencatat bahwa 2014 ini relatif baik bagi buruh di Malaysia. Hal ini berkat implementasi penuh dari tatanan upah minimum dan usia pensiun minimum 60 tahun.
Menurut informasi setelah Malaysia peringati hari Buruh pada 2013, tingkat pengangguran menurun sekira 3,2 persen dan masih menjadi salah satu negara yang memiliki tingkat pengangguran terendah di dunia.
(Andreas Gerry Tuwo)