JAKARTA - Mahasiswa kurang mampu tapi ingin menjadi ahli teknologi infomasi (TI) bukan lagi sebuah impian. Apalagi bagi mereka yang datang dari keluarga dhuafa, kini bisa berharap anaknya menjadi sarjana ahli TI.
Hal itu terlihat dalam seleksi peserta beasiswa Pesantren Teknologi Informasi dan Komunikasi (PeTIK) yang diselenggarakan STT Terpadu Nurul Fikri dengan Lazis PLN.
"Kami menyeleksi seratusan calon mahasiswa yang berminat menjadi ahli TI. Persaingan ketat karena saat ini hanya 20 mahasiswa yang berhak mendapat beasiswa tiap angkatan. Mereka menghadapi tes administrasi, potensi akademik dan psikologi. Kami juga mengecek langsung kondisi keluarganya," ujar Ketua STT Terpadu NF, Rusmanto Maryanto, dalam keterangan tertulisnya kepada Okezone, Kamis (5/6/2014).
Program unik untuk kaum muda dhuafa ini sudah berlangsung selama dua angkatan. Kuliah jurusan Teknik Informatika selama dua tahun dipadu dengan kurikulum Kepesantrenan (Tahfidzul Qur'an, Aqidah, Akhlak, Fiqh dan bahasa Arab). Lulusannya pun akan mendapat sertifikat TI dan dibantu penyaluran kerja.
"Kami sangat bersyukur karena anak kami mendapat latihan keterampilan dan dicarikan pekerjaan yang tepat. Terlebih lagi dapat pergaulan yang baik di pesantren," ungkap salah seorang orangtua peserta yang baru diwisuda pada angkatan kedua, Kaliri.
Sekretaris Direksi PT PLN Adi Supriono menyambut kerja sama Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah PLN dengan STT Terpadu NF. "Program PeTIK ini sangat bermanfaat karena tak hanya meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri kaum muda. Namun juga menciptakan lapangan kerja dan mengurangi angka kemiskinan. Mahasiswa yang lulus dapat mengangkat kondisi keluarganya," papar Adi.
Perkuliahan angkatan ketiga akan dimulai pada bulan Ramadan. Selama ini, lokasi pesantren masih menyewa rumah. Saat ini sedang dibangun asrama yang permanen di kawasan Pancoran Mas, Depok.