JAKARTA - Indonesia masih belum bersih dari feodalisme dan budaya korupsi. Bahkan, pencitraan kerap mewarnai kehidupan politik, ekonomi dan kemanusiaan di Tanah Air.
Pada 1977, seniman WS Rendra pun menulis naskah drama berjudul "Sekda" sebagai kritik atas fenomena tersebut. Tiga dekade kemudian, naskah tersebut masih relevan untuk mengkritik kondisi kehidupan bernegara Indonesia.
Kali ini, pengaju kritik adalah Teater Paradoks, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Dikomandoi Maharani Megananda (21 tahun), 21 pelakon bermain apik dan sangat total dalam memaknai kembali lakon lama tersebut sesuai kondisi masa kini. Selain para aktor, 14 kru membantu pementasan yang disiapkan selama 2,5 bulan itu.
Nanda menyatakan, memahami naskah Sekda tidak terlalu sulit mengingat situasi ekonomi dan politik saat ini tidak jauh berbeda dengan ketika naskah itu lahir, 37 tahun silam. Apalagi, sutradara muda dan para awak teater Paradoks telah akrab dengan kajian sosial politik di Indonesia.
"Hasrat berkuasa yang penuh kepura-puaraan masih mewarnai kondisi kebangsaan kita," kata Nanda, seperti dinukil dari keterangan tertulis Teater Paradoks kepada Okezone, Selasa (15/7/2014).
Mahasiswi semester 7 itu menerangkan, dulu, rezim Orde baru sering melarang pementasan naskah Sekda. Nanda menerjemahkan naskah ini sebagai kritik atas gaya para pejabat yang doyan pamer kemewahan, gonta-ganti mobil, dan punya banyak rumah megah.
"Di sana, ada sosok pejabat sekelas Sekretaris Daerah (Sekda) yang bertemu dengan sosok Gubernur doyan pencitraan namun tak ikhlas dan tak amanah," tutur putri rocker senior Bangkit Sanjaya itu.
Akhir pekan lalu, Nanda sukses memimpin pementasan Sekda yang mengombinasikan unsur komedi realis dari tradisi dagelan dan lenong nusantara. Pada pementasan berdurasi 60 menit tersebut, para pemain seperti Yoga, Iqbal, Meryl, Taufan, Adrianus, Kong Albi, Delilah dan Rifanda menyajikan penampilan ciamik.
Bahkan, hasil kerja mereka diapresiasi dedengkot teater yang menyaksikan pentas itu seperti Ratu Agnes Selvia, Sutarno dan Didin Boneng. Tidak hanya memuji penampilan teater Paradoks, teater ini juga dinilai punya prospek baik di masa depan.
(Rifa Nadia Nurfuadah)