RIYADH - Mendiang Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdulaziz, adalah salah satu kekuatan monarki besar di dunia. Selain dikenal menjadi pemimpin Arab Saudi dalam berbagai masa sulit, salah satu warisan Raja Abdullah adalah upayanya mendorong negara tersebut ke arah perbaikan hak asasi manusia.
Di mata dunia, Arab Saudi sering dikritik karena buruknya penanganan hak asasi manusia, terutama di kalangan wanita, Abdullah memimpin pergerakan menuju masyarakat yang lebih setara. Di luar hukum syariah Islam dan hukum negara, Raja Abdullah secara perlahan memfasilitasi kesetaraan bagi perempuan menuju modernitas budaya dan ekonomi.
Abdullah dikenal memperbolehkan wanita Arab Saudi menjadi kasir supermarket dan bahkan menunjuk Norah al-Faiz sebagai perempuan pertama yang menjadi anggota konsil menteri. Norah akan menjadi representasi kepentingan pendidikan perempuan di negara tersebut.
Pendidikan perempuan memang menjadi salah satu hal yang diadvokasi Raja Abdullah. Menurut laporan World Policy Journal, Abdullah berfokus pada pendidikan tinggi untuk perempuan Arab Saudi.
Kolumnis dan mantan kepala biro Jeddah untuk Saudi Gazette, Sabria Jawhar, menulis dalam laporan itu bahwa pemerintahan Raja Abdullah dipertimbangkan sebagai masa keemasan pendidikan tinggi bagi perempuan di negaranya. "Sejak diasumsikan naik takhta pada 2005, dia memiliki prioritas mendidik kaum perempuan Arab Saudi," ujar Jawhar, seperti dinukil dari IB Times, Jumat (23/1/2015).
Perguruan tinggi yang didirikannya, King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), memberi kesempatan laki-laki dan perempuan Arab Saudi menempuh pendidikan yang setara. Kampus senilai USD12.5 miliar ini merupakan kebalikan dari institusi pendidikan yang umumnya memisahkan siswanya berdasarkan jenis kelamin.
Pada 2011, Abdullah membuat peraturan monumental yang memberi kesempatan wanita memilih dan mencalonkan diri pada pemilihan umum 2015 mendatang. "Kami menolak untuk memarjinalkan peran wanita di kerajaan Arab Saudi," ujar Raja Abdullah ketika itu, seperti dirilis New York Times.
Abdullah juga mengadvokasi lebih banyak hak asasi manusia bagi kalangan perempuan. Tetapi, perjuangannya ini kerap mendapat penolakan dari tradisi budaya kerajaan.
Misalnya, dia menjanjikan akan membolehkan perempuan untuk mengemudi, salah satu simbol independensi di Arab Saudi. Namun, penolakan dari para konservatif negara tersebut akhirnya menghentikan perjuangan Abdullah memberikan "hak perempuan untuk mengemudi" tersebut.
(Rifa Nadia Nurfuadah)