NAMANYA kerap diabadikan sebagai nama jalan, monumen, hingga sebuah stadion Si Jalak Harupat yang dimukimi dua klub Liga Indonesia, Persib Bandung dan Pelita Bandung Raya. Statusnya juga sudah dijadikan pahlawan nasional. Tapi ironisnya, keberadaan jasad Otto Iskandardinata (Otista) hingga sekarang masih misterius.
Otista yang semasa pergerakan kebangsaan pernah terlibat di Gementeraad (Dewan Kota) dan kemudian Volksraad (Dewan Rakyat – sekarang DPR) di era kolonial Hindia-Belanda, sampai BPUPKI dan PPKI di rezim militerisme Jepang, justru mengakhiri perjalanan hidupnya dengan tragis.
Di masa kolonial, Otista bak pejuang perang yang sulit disetop Belanda. Julukan Si Jalak Harupat pun disematkan padanya lantaran punya spirit bak ayam jago yang keras dan tajam menghantam lawan, kencang bila berkokok, dan selalu menang bila diadu.
Pasca-kemerdekaan, ayah 12 anak itu dipercaya menduduki jabatan Menteri Negara, untuk kemudian mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal-bakal TNI. Dari sinilah tragedi yang memakan nyawanya lahir.
Sejumlah laskar tak puas dengan kebijakannya soal hubungan Indonesia dengan Belanda, juga keengganan laskar-laskar dimasukkan sebagai bagian dari BKR. Salah satu laskar yang paling lantang menentangnya adalah “Laskar Hitam”. Laskar yang anggotanya keturunan Arab.
Disebutkan dalam surat kabar Pikiran Rakjat pada 20 Desember 1952, Otista diculik dan sempat dibui di Rumah Tahanan Mauk, Tangerang. Otista diculik dua orang berpakaian hitam dan menggunakan ikat kepala dengan bersenjatakan belati, ke Pantai Desa Ketapang, sekira dua kilometer dari Mauk.
Otista sempat dianiaya sejak diculik 10 Desember dan 10 hari kemudian secara tragis dieksekusi dengan tangan terikat dan dilempar ke laut. Jenazahnya hingga sekarang masih hilang bak ditelan bumi.
Oleh karenanya hingga sekarang, kematian Otista ditetapkan pada 20 Desember 1945. Pada penghujung 1952, Otista “dimakamkan” kembali. Disebut begitu karena jenazahnya yang tak ditemukan. Pemakaman itu digelar dengan syarat, putra Otista mengambil air laut dan pasir ke sebuah peti sebagai simbol.
Peti itu kemudian dikuburkan di Taman Bahagia, Lembang, Bandung Utara. Otista ditetapkan pemerintah sebagai salah satu pahlawan nasional, pada 10 November 1973. Mengingat akan sosok Otista, mungkin suami dari Soekirah itu tak pernah angkat senjata. Tapi dia tak pernah ragu untuk mempertaruhkan nyawanya demi Indonesia merdeka.
“Kalau kemerdekaan Indonesia boleh ditebus dengan jiwa seorang anak Indonesia, saya akan maju sebagai kandidat yang pertama untuk pengorbanan ini,” penuturan Otista seperti yang pernah tertuang di surat kabar Tjahaja, 21 Agustus 1945.
(Muhammad Saifullah )