BANDA ACEH - Aksi pelemparan bus dilakukan sekelompok remaja marak terjadi di lintasan Jalan Nasional Banda Aceh-Medan dalam bulan Ramadan ini. Ulah mereka sangat meresahkan awak bus, karena berbahaya bagi keselamatan penumpang.
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Aceh, Ramli mengatakan, pengusaha angkutan umum dan sopir sangat resah dengan aksi ini, karena selain merugikan mereka secara materil, juga bisa mengancam nyawa penumpang.
"Kami sangat mengecam dan menyayangkan kasus pelemparan ini. Dulu kita sering mengeluh aksi ini terjadi di Sumatera Utara, sekarang sudah terjadi di daerah kita sendiri," katanya kepada Okezone, Jumat (26/6/2015).
Dalam sepekan terakhir saja sedikitnya sudah tiga kali aksi pelemparan bus terjadi sepanjang lintasan pesisit timur Aceh. Kasus teranyar, Kamis 25 Juni kemarin, sekelompok remaja melempari bus Kurnia di kawasan Seuneubok Baro, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang.
Bus bernomor polisi BL 7444 TB yang sedang melintas dari arah Banda Aceh menuju Medan, dilempari dengan batu menjelang subuh. Akibat pelemparan itu, kaca bagian kanan bus pecah dan pintu darurat rusak. Tak ada korban jiwa, kerugian ditaksir jutaan rupiah.
Tak lama setelah kejadian, polisi turun ke lokasi kejadian dan membekuk empat remaja diduga pelaku pelempar bus tersebut.
Dua hari sebelumnya aksi pelemparan batu juga menimpa bus Putra Pelangi berplat BL 7514 AA di kawasan Aceh Timur. Bus yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi dari Medan menuju Banda Aceh itu, dilempari dua pelaku yang mengendarai sepeda motor, Selasa dini hari, 23 Juni lalu.
Aksi ini hanya berselang lima hari dari kejadian dialami bus Simpati Star nomor polisi BL 7702 AA. Bus yang sedang menuju Banda Aceh itu dilempar sekelompok remaja di kawasan Bireum Rayeuk, Kecamatan Bireum Bayeun, Aceh Timur, 18 Juni 2015 atau hari pertama Ramadan.
Akibat pelemparan pada dini hari itu, kaca bus pecah. Polisi berhasil meringkus lima pelaku yang merupakan pelajar SMP. Mereka mengaku hanya iseng-iseng melempari bus.
Organda Aceh meminta kepolisian aktiv melakukan patroli untuk menghindari aksi pelemparan itu terus berlanjut. Ulama juga diminta menyampaikan pesan kepada warga melalui tausyiah agama, agar tak melakukan perbuatan merugikan orang lain itu.
"Pelaku boleh saja iseng melempari bus, tapi aksi ini sangat berbahaya. Kalau sempat mengenai supir, itu bisa celaka. Ujung-ujungnya itu nyawa penumpang bisa melayang," tukas Ramli.
Aksi pelemparan bus sepanjang Jalan Nasional Banda Aceh-Medan marak terjadi dalam dua tahun terakhir baik di Aceh maupun Sumut. Untuk menghindari korban, rata-rata bus melindungi kaca depannya dengan memasang "jaring laba-laba".
Untuk mencegah aksi pelemparan bus, Polda Aceh mengintrusikan jajaranya untuk menggencarkan patroli. "Kita sudah sampaikan ke jajaran agar ditingkatkan pengawasan melalui patroli rutin di wilayah operasionalnya masing-masing," kata Kapolda Aceh, Irjen Husein Hamidi.
(Fiddy Anggriawan )