JAKARTA - Peneliti senior Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo menilai, ada kedekatan khusus antara Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Menurutnya, terdapat beberapa faktor kepentingan yang mendekatkan emosional di antara keduanya.
“Itu (pemodal di balik pasangan capres-red) sejatinya tidak hanya terjadi di Indonesia. Apakah faktor itu yang membuat Pak Jokowi yang membuat sayang terhadap Rini Soemarno,” ungkap Waryono di Jakarta, Senin (6/7/2015).
Dia menambahkan, sebelumnya telah ada konsorsium kekuatan para pemodal dalam memenangkan pasangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014 lalu, yang kemudian diyakini sebagai kecenderungan Presiden Jokowi menyayangi Menteri Rini.
Untuk itulah kata dia, menarik ditunggu seberapa besar nyali Jokowi untuk mengganti Rini yang dianggap kinerjanya jauh dari ekspektasi publik, mengingat ada kedekatan khusus Jokowi dengan mantan menteri di era Megawati Soekarnoputri itu.
“Salah satunya faktor yang saya sebutkan tadi ada kekuatan pemodal. Konsorsium kekuatan pemodal ini yang diduga dikoordinir Rini. Besarnya saya tidak tahu," tuturnya.
Sementara itu politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Masinton Pasaribu mengatakan, selain menteri perempuan yang ramai dibicarakan publik, ada dua pembantu Presiden lainnya yang juga patut dievaluasi oleh Jokowi.
“Ada tiga pembantu Presiden yang menyudutkan Presiden. Dua jabatannya sebagai menteri, satu lagi setingkat menteri,” ungkap Masinton.
Sayangnya, anggota Komisi III DPR itu enggan mengungkap identitas mereka. Menurut Masinton, semua data yang dimiliki oleh partai pengusung Jokowi-JK pada Pilpres 2014 itu telah lengkap.
“Satu menteri yang ada di pelabuhan, ketika waktu sidak soal (dwelling time). Itu ada delapan kementerian di sana. Satu lagi setingkat menteri, di dalam Istana. Dan dia bicara sama, kurang lebih seperti itu,” pungkas Masinton.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo menyebut ada menteri pada Kabinet Kerja yang menghina Presiden Jokowi. Namun, Tjahjo enggan menyebutkan nama menteri tersebut. Menurutnya, Jokowi telah mengantongi data tersebut.
Dia menuturkan, tindakan yang dilakukan menteri tersebut sangatlah tidak pantas. Sebagai pembantu Presiden yang telah dipercaya untuk duduk di kabinet, lanjut Tjahjo, perbuatan itu menunjukkan ketidakloyalan dan tidak etis.
(Rizka Diputra)