Masjid Laweyan, Bukti Sejarah Islam di Solo

, Jurnalis
Jum'at 24 Juli 2015 06:45 WIB
Masjid Laweyan Solo. (Foto: Sindo)
Share :

Di depan masjid terdapat Sungai Jenes yang dahulu menjadi urat nadi perekonomian Kerajaan Pajang. Sungai Jenes yang bermuara di Sungai Bengawan Solo konon menjadi sarana transportasi perdagangan.

Bahkan, konon ada bandar yang menjadi tempat tambatan perahu yang diberi nama Bandar Banaran. Sementara, Kampung Batik Laweyan yang kini ada, dahulu merupakan ladang yang ditanami kapas.

Nama Laweyan, menurut Adiyanto, berasal dari kata Lawe, yaitu kapas yang dipintal menjadi benang untuk bahan pakaian. Lokasi itu kemudian makin berkembang menjadi tempat tinggal para bangsawan dan juragan kain.

Ki Ageng Henis memiliki anak bernama Ki Ageng Pemanahan dan cucu bernama Sutowijoyo. Sedangkan Sultan Hadiwijoyo memiliki anak Raden Benowo. Namun, Raden Benowo enggan meneruskan takhta ayahnya dan selanjutnya ditunjuk Sutowijoyo.

Pemerintahan pun dipindah ke Alas Mentaok, Kotagede, Yogyakarta dan berdirilah Kerajaan Mataram. Sutowijoyo naik takhta menjadi raja Mataram bergelar Panembahan Senopati.

Masjid Laweyan merupakan bukti sejarah perkembangan Islam di Solo pada masa Kerajaan Pajang. Islam berkembang cukup pesat karena dakwah yang dilakukan Ki Ageng Henis secara santun dan lemah lembut mampu mengikat hati masyarakat pada masa itu.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya