Maarif Institute Luncurkan Buku Fikih Kebhinekaan

Salviah Ika Padmasari, Jurnalis
Kamis 06 Agustus 2015 17:06 WIB
Syafii Maarif (foto: Salviah/Okezone)
Share :

MAKASSAR - Maarif Institute meluncurkan buku 'Fikih Kebhinekaan' di Gedung Training Centre Kampus UIN Makassar, Kamis (6/8/2015). Dalam peluncuran itu juga digelar diskusi membahas buku setebal 360 halaman yang ditulis 16 orang tersebut.

Tampil dua di antara 16 penulis sebagai pembicara yakni Wawan Gunawan Abdul Wahid dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah serta Mohammad Sabri AR yang merupakan pengajar di UIN Alauddin, Makassar. Hadir pula Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang juga turut memberi pengantar pada buku ini.

Di antara 16 penulis itu ada pula yang bukan kader Muhammadiyah, seperti cendekiawan Azyumardi Azra, Yudi Latif, dan Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin.

MAKASSAR - Maarif Institute meluncurkan buku 'Fikih Kebhinekaan' di Gedung Training Centre Kampus UIN Makassar, Kamis (6/8/2015). Dalam peluncuran itu juga digelar diskusi membahas buku setebal 360 halaman yang ditulis 16 orang tersebut.

Tampil dua di antara 16 penulis sebagai pembicara yakni Wawan Gunawan Abdul Wahid dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah serta Mohammad Sabri AR yang merupakan pengajar di UIN Alauddin, Makassar. Hadir pula Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang juga turut memberi pengantar pada buku ini.

Di antara 16 penulis itu ada pula yang bukan kader Muhammadiyah, seperti cendekiawan Azyumardi Azra, Yudi Latif, dan Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin.

Salah satu penulis, Wawan Gunawan Abdul Wahid, mengatakan bahwa 'Fikih Kebhinnekaan' adalah sebuah rumusan fikih yang berpijak pada fenomena keragaman masyarakat. Tujuannya memberi panduan praktis di kalangan umat Islam Indonesia dalam mendorong hubungan sosial yang harmonis, menghilangkan diskriminasi, memperkuat demokratisasi, dan memberikan landasan normatif religius bagi negara dalam memenuhi hak-hak warga masyarakat secara berkelebihan.

Wawan juga mengatakan, Islam mengakui kehadiran seorang pemimpin dari kaum minoritas. Islam terbuka akan hal ini sepanjang tidak mengancam eksistensi dan keamanan masyarakat Muslim.

"Fenomena Halida Marding di Minahasa, kepala desa di tengah penduduk non-Muslim. Lalu sebaliknya ada Susan, lurah di Jakarta yang memimpin di tengah warga Muslim. Ini fenomena menarik," tuturnya.

Sementara Buya Syafii Maarif mengatakan, jika ingin mempertahankan bangsa dan negara ini 100 hingga 1.000 tahun lagi maka seperti uraian di buku ini solusinya. "Saya rasa kalau tidak maka kita akan berkeping-keping," ujarnya.

Salah satu penulis, Wawan Gunawan Abdul Wahid, mengatakan bahwa 'Fikih Kebhinnekaan' adalah sebuah rumusan fikih yang berpijak pada fenomena keragaman masyarakat. Tujuannya memberi panduan praktis di kalangan umat Islam Indonesia dalam mendorong hubungan sosial yang harmonis, menghilangkan diskriminasi, memperkuat demokratisasi, dan memberikan landasan normatif religius bagi negara dalam memenuhi hak-hak warga masyarakat secara berkelebihan.

Wawan juga mengatakan, Islam mengakui kehadiran seorang pemimpin dari kaum minoritas. Islam terbuka akan hal ini sepanjang tidak mengancam eksistensi dan keamanan masyarakat Muslim.

"Fenomena Halida Marding di Minahasa, kepala desa di tengah penduduk non-Muslim. Lalu sebaliknya ada Susan, lurah di Jakarta yang memimpin di tengah warga Muslim. Ini fenomena menarik," tuturnya.

Sementara Buya Syafii Maarif mengatakan, jika ingin mempertahankan bangsa dan negara ini 100 hingga 1.000 tahun lagi maka seperti uraian di buku ini solusinya. "Saya rasa kalau tidak maka kita akan berkeping-keping," ujarnya.

(Risna Nur Rahayu)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya