"Sebenarnya ini takdir. Kami dari keluarga yang tidak memikirkan sedikit pun itu tapi ternyata terjadi seperti ini. Tetapi berkhidmad di Aisyiyah dan Muhammadiyah untuk berperan apa saja," kata Siti Noordjannah Djohantini.
Menurutnya, Aisyiyah dan Muhammadiyah itu punya rumah tangga masing-masing dan dipilihnya dia dan suaminya adalah amanah yang harus ditunaikan. "Saya itu dari keluarga Muhammadiyah mulai dari kakek dan orang tua," ujarnya.
Manta Ketua Umum PP Muhamadiyah dua periode, Din Syamsuddin dalam sambutannya di saat penutupan muktamar memberi restu kepada dua suami istri ini. Dalam Muhammadiyah, hal tersebut diperkenankan.
Sementara Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulsel, Nurhayati Azis yang diminta pendapatnya juga mengatakan hal itu bukan masalah. "Kita punya persyerikatan, Muhammadiyah dan Aisyiyah memiliki regulasi dan kaidah masing-masing. Punya rumah tangga masing-masing. Jadi itu tidak masalah karena tentu tidak akan dikelola secara kekeluargaan dan saya percaya itu," tandas Nurhayati Azis.
(Risna Nur Rahayu)