CIREBON – Wacana untuk mengganti nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Pasundan ditolak warga Cirebon. Keberatan tersebut diwakili oleh sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda Cirebon.
Penggantian nama menjadi Provinsi Pasundan dinilai justru akan kontraproduktif, bahkan hanya akan memicu kelahiran provinsi baru di wilayah Jawa Barat, yang bukan entitas Sunda.
Provinsi Cirebon pun menjadi pilihan satu-satunya sebagai upaya mempertahankan entitas Cirebon, kalau memang Provinsi Pasundan menjadi terwujud.
Penolakan warga Cirebon mencuat dalam diskusi budaya yang menghadirkan narasumber filolog dari Unpad Raffan S Hasyim, budayawan Cirebon yang juga Ketua Lembaga Budaya lan Sastra Cirebon Nurdin M Noer dan budayawan Indramayu Supali Kasim yang dimoderatori Agung Nugroho, di Kota Cirebon.
"Jawa Barat sudah merupakan nama terbaik yang merepresentasikan semua entitas di wilayah Jawa Barat," kata Nurdin M Noer.
Diskusi yang dihadiri seniman, akademisi, wartawan, anggota DPRD Kota Cirebon Jafarudin dan puluhan peserta melahirkan "Manifesto Caruban" yang terdiri dari 4 poin tuntutan.
Selain penolakan penggantian Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Pasundan, mereka juga mendesak agar semua pihak lebih melihat Jawa Barat sebagai sebuah wilayah dengan entitas yang lebih luas lagi, ada Sunda, Cirebon, Betawi, Arab, India, Pakistan dan lainnya.
"Pemerintah dan semua pihak juga harus seimbang dalam pengembangan program semua entitas budaya di Jabar," ujar Supali Kasim yang membacakan manifesto Caruban.
Manifesto Caruban juga menekankan pentingnya persoalan peningkatan taraf hidup masyarakat dan mengangkat harkat kebudayaan yang justru harus menjadi fokus perhatian utama.
"Penggantian nama kan tidak penting, malah hanya akan membebani masyarakat dengan alokasi anggaran akibat perubahan nomenklatur," tegas Raffan S Hasyim yang disapa Opang.
Meski membahas masalah serius, namun diskusi berjalan cukup santai diselingi guyonan dan humor-humor khas Cirebonan.
"Guyonan itu budaya khas Cirebon yang melekat dalam kehidupan sehari-hari orang Cirebon. Bahkan membahas tarekat, filosofi dan persoalan penting lain pun, orang Cirebon membahasnya sambil guyonan," kata Opang.
(Retno Wulandari)