WASHINGTON – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) yang merupakan salah satu kekuatan terbesar di bidang militer dibuat cemas dengan kehadiran rudal mutakhir China. Kekhawatiran tersebut secara jelas diungkapkan oleh Jenderal Herbert Carlisle, salah seorang perwira tinggi USAF.
Kepala komando tempur udara USAF itu mengatakan bahwa PL-15, rudal udara milik China, memiliki radar pencari yang canggih dan motor roket yang kuat sehingga dapat menghantam sasarannya dari jarak 1,6 kilometer (km) atau lebih. Jarak tersebut kurang lebih sama jangkauan misil yang dimiliki pesawat AS.
“Lihatlah musuh kita dan apa yang mereka kembangkan, senjata seperti PL-15 dan jarak yang dimiliki senjata itu. Bagaimana kita menghadapinya dan apa yang akan kita lakukan untuk terus menanggulangi ancaman tersebut?” kata Carlisle, sebagaimana dilansir Daily Beast, Jumat (25/9/2015).
Komentar sang jenderal dikeluarkan pada hari yang sama dengan saat China untuk pertama kalinya melakukan uji coba PL-15 pada 15 September 2015. Carlisle kemudian mengeluarkan pernyataan serupa sehari kemudian dengan kembali menekankan kekhawatirannya pada jarak dan kecepatan yang dimiliki PL-15.
Menurut Juru Bicara Komando Tempur Udara USAF Mayor Michael Meredith, kekhawatiran AS mengenai PL-15 bukan hanya lahir dari kecanggihan teknologi yang dimiliki rudal itu, melainkan dari kelemahan yang dimiliki pesawat USAF sendiri.
Pesawat tempur tercanggih milik USAF saat ini F-22 hanya mampu membawa enam rudal AIM-120 AS ditambah dua rudal jarak dekat Sidewinder. Jumlah itu jauh jika dibandingkan jumlah rudal yang dapat dibawa jet tempur J-11 China yang bisa diisi 12 misil seukuran PL-15.
Produksi F-22 yang dihentikan pada 2009 memunculkan penggantinya F-35 yang ternyata memiliki daya tampung rudal yang lebih buruk dibandingkan pendahulunya. Pesawat yang didapuk sebagai senjata termahal di muka bumi itu hanya dapat membawa dua unit rudal AIM-120.
Hal ini disebabkan jet tempur AS menitikberatkan pada teknologi siluman yang menuntut badan pesawat yang ramping tanpa celah agar tidak dapat dideteksi radar. Namun di sisi lain, desain ini tidak memungkinkan daya tampung persenjataan yang memadai. Sedangkan J-11 yang memiliki desain mirip Sukhoi SU-35 superflanker Rusia, tidak memiliki masalah seperti itu.
Dalam skenario perang yang mengharuskan dua pesawat saling berhadap-hadapan, jelas daya tampung rudal yang dimiliki jet tempur AS menjadi kelemahan besar. Dengan kemampuan rudal yang relatif seimbang, pesawat China membawa rudal dua kali lebih banyak dibandingkan pesawat AS.
(Rahman Asmardika)