"Kraton punya penanggalan tersendiri dan telah berjalan ratusan tahun lalu. Dan dasar itulah yang kami gunakan hingga saat ini. Apa yang kami lakukan, juga ditiru oleh Kraton Ngayojokarto. Di mana Kraton Ngayojokarto pun mengikuti apa yang di pakai saudara tertuannya. Dalam hal ini Kraton Kasunanan," ujar Edi saat berbincang dengan Okezone di Solo, Jawa Tengah.
Kanjeng Pangeran (KP) Edi Wirabumi menambahkan, tahun Hijriah dan tahun Jawa berpatokan pada perhitungan bulan, namun metode penghitungannya yang berbeda. Perbedaan tersebut terletak pada letak tahun kabisat.
"Kirab 1 Suro biasa dilaksanakan pada malam tahun baru Hijriah, juga untuk memperingati tahun baru Jawa. Kebetulan di tahun ini, letak kabisat berbeda dan berselisih satu hari," terangnya.
Meski kirab mundur, sambung KP Edi Wirabumi, sebagai salah satu kerajaan Islam, maka pada tahun baru Hijriah, Keraton Surakarta juga memperingatinya dengan doa dan wilujengan.
Sebelum kirab pusaka dilakukan, akan diawali dengan khol (peringatan hari wafat) Paku Buwono (PB) X, lalu dilanjutkan persiapan kirab. Mulai dari menyiapkan petugas pembawa pusaka dan kerbau Kiai Slamet. Kemudian pukul 23.30 WIB pusaka yang terdiri dari tombak dikeluarkan dari keraton untuk dikirab.
Edi Wirabumi mengatakan, kirab pusaka ini mengambil rute dari depan Kori Kamandungan keraton, Alun-alun Utara, Gladag, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi dan kembali ke keraton.