Fahri berharap, kelak bila Kota Biak sudah maju, semua warga Papua harus mendapat efek dari kemajuan ini dan mendapat daya dukung serta bantuan berupa fisik maupun non fisik.
Selama ini, lanjut Fahri, orang hanya berbicara Jawa, Denpasar, Sulawesi sebagai daerah yang maju. Bahkan, pemerintah baru-baru ini membuat pengadaan kereta api cepat Jakarta-Bandung. Justru, persepsi pembangunan kawasan harus diubah ke timur Indonesia. Kawasan timur juga harus menjadi pusat kota yang maju dan berkembang.
Pengembangan Biak menjadi kota internasional, kata Politisi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, harus menjadi salah satu agenda dalam perjanjian Trans Pasific Partnership yang sedang dijajaki pemerintah. Menurut Fahri, bila tak ada agenda itu, berarti hanya akan menjadi deal dagang yang "kejam".
“Kita harus berani memasukkan klausul perjanjian, dengan meletakkan pusat kemajuan di timur yang merupakan bagian dari desain kerja sama perdagangan internasional," tandasnya.
Politisi Dapil Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menambahkan, langkah yang bisa dilakukan pemerintah adalah dengan mengembalikan fungsi kota, pelabuhan, dan bandara menjadi destinasi yang strategis dan maju. Pada gilirannya Kota Biak akan berkembang menjadi pusat metropolitan di timur.
“Maka jarak kita dengan negara-negara di kawasan Pasifik makin dekat, baik ke Jepang dan Korea Selatan. Kita juga sangat dekat dengan AS melalui Honolulu, lalu terbang ke Los Angeles. Itu hanya memakan waktu 10-12 jam,” ungkap Fahri.
Ia berharap, nantinya mendapat perhatian dari pemerintah, karena belum ada proposal tentang Papua di APBNP 2016.
"Saya sudah komunikasikan langsung ke beberapa menteri, ternyata sudah menjadi bagian dari program pemerintah. Mimpi pertumbuhan pembangunan dari barat ditarik ke timur, semakin mendekati kenyataan," imbuhnya.
(Fransiskus Dasa Saputra)