Ketidakstabilan politik yang terjadi di Yaman inilah yang menjadi celah bagi kelompok pemberontak Houthi yang beraliran Syiah untuk coba merebut kekuasaan dari pemerintah.
Mansour Hadi sempat mundur dari jabatannya ketika pemberontakan terus memuncak di negaranya. Kekuasaan di Yaman kosong dan Houthi mencoba mengusung pemimpin baru. Namun, warga Saana sendiri menolak pembentukan kekuasaan baru tersebut. Negara-negara sahabat bahkan menutup kedutaan-kedutaan besar Yaman.
Pada 2015, Hadi bersedia mencabut pengunduran dirinya dan kembali menduduki kursi kepresidenan di Yaman. Namun begitu, pemberontakan terus bergejolak.
Yaman kemudian dibantu Arab Saudi memerangi pemberontak Houthi dan sekutunya. Sedikitnya, 6.000 orang telah tewas akibat perang saudara ini, hampir setengah dari mereka adalah warga sipil.
(Silviana Dharma)