VATIKAN CITY – Paus Fransiskus kembali membuat gebrakan. Mulai tahun ini, membasuh dan mencium kaki perempuan sebagai ritual menyambut perayaan Paskah diperbolehkan.
“Yesus datang ke dunia untuk memberikan hidupnya bagi semua orang, baik laki-laki, perempuan, orang tua, anak-anak muda, yang sakit maupun sehat,” terangnya, dikutip dari Japan Times, Sabtu (231/2016).
Kebijakan baru yang membuka pintu bagi kesetaraan gender ini disambut baik oleh sejumlah pihak, terutama aktivis pembela hak perempuan. Walaupun, tidak menutup kemungkinan, ada beberapa paroki atau pengurus gereja yang selama ini setia menjalankan ketentuan itu, merasa kecawa dengan keputusan Sri Paus.
“Ini adalah kabar gembira, langkah maju yang luar biasa. Ini berarti perubahan (tradisi gereja) itu mungkin, pintu nampaknya telah terbuka di Vatikan,” kata Erin Hanna, co-direktur Konferensi Pentahbisan Perempuan yang berbasis di Amerika Serikat, yang mempromosikan adanya Imam Katolik perempuan.
Selama berabad-abad, tradisi prapaskah hanya mengizinkan pendeta membasuh dan mencium kaki 12 laki-laki. Sebagi peringatan simbolis teladan pelayanan, saat Yesus turun tangan mencuci dan mencium kaki ke-12 muridnya sebelum ia ditangkap dan disalibkan di kayu salib.
Ritual yang dimaksud akan berlangsung di tingkat paroki Katolik di seluruh dunia pada hari Kamis, empat hari sebelum Paskah. Dalam Alkitab Kristiani, Yesus memulai ritual kerendahan hati sebelum mereka duduk di meja makan dan menjalani apa yang sekarang kita kenang sebagai Malam Perjamuan Terakhir.
(Silviana Dharma)