Pesatnya perkembangan Medan Prijaji membuat keputusan Tirto untuk menerbitkannya secara harian, yang dimulai pada 5 Oktober 1910. Penerbitan secara harian ini mendapat sambutan baik dari pembacanya ketika itu dan mampu bersaing dengan koran terbitan milik Belanda.
Namun, masa hidupnya Medan Prijaji tak terlalu lama. Surat kabar yang mengedepankan kepentingan pribumi itu terbit terakhir pada 3 Januari 1912 dan pada 23 Agustus 1912 Medan Prijaji pun ditutup. Menurut Daniel, singkatnya usia Medan Prijaji lantaran isi surat kabar itu selalu berseberangan dengan pemerintah kolonial saat itu.
“Karena Tirto ini memang artinya idealismenya ini untuk kemajuan pribumi, dia pembela pribumi dan dengan posisi itu kan dia sering sekali bersinggungan denga pemerintah kolonial Belanda. Jadi penyebab utamanya itu, melawan kebijakan kolonial,” terang dia.
(Susi Fatimah)