BOGOR - Anggrek Grammathophyllum Speciosum Blume atau anggrek raksasa atau anggrek tebu tumbuh dan tersebar di Jawa, Sumatera, Riau, Bangka, Kalimantan, Nusa Tenggara, Filipina dan Malaysia.
Anggrek tersebut juga menjadi salah satu koleksi di Kebun Raya Bogor (KRB), Jawa Barat yang saat ini tengah mekar mekar. Selain ukuran tanaman serta bunganya cukup besar, tanaman ini hanya berbunga dua tahun sekali.
"Daya tahan bunganya pun bisa sampai 2,5 bulan. Ini disebabkan karena bunganya yang mekar bergantian, sehingga pengunjung bisa berlama-lama menikmati keindahan anggrek tersebut," kata penanggung jawab Rumah Anggrek KRB, Eka Ratna, Jumat (04/03/2016).
Ia menjelaskan bahwa anggrek tersebut biasanya berbunga di bulan Januari-Februari. anggrek jenis ini memiliki dua jenis bunga, yakni fertil yang bisa membentuk buah dan biji dan steril, tidak bisa membentuk buah dan biji.
Anggrek Grammathophyllum Speciosum Blume dijuluki anggrek raksasa lantaran ukuran tanaman maupun bunganya yang serba besar. Tinggi batangnya berkisar antara satu sampai dua meter.
Daunnya pun tersusun di sebelah kiri dan kanan batang dengan panjang 50-100 cm dan lebar tiga hingga empat cm. Sedangkan tangkai bunganya akan muncul dari pangkal batang sepanjang dua-tiga meter. Pada tangkai yang panjang terjurai ini ada 60-100 kuntum bunganya tergantung dengan anggunnya.
"Yang berukuran raksasa tidak hanya daun, batang, serta tangkai bunganya. Ketika bunganya mekar sempurna, diameternya antara 10-12 cm. Sehingga keindahannya nampak semakin nyata," papar Eka.
Tanaman anggrek raksasa ini tumbuh di batang pohon besar di sekitar Green Garden Cafe, Kebun Raya Bogor atau lebih tepatnya di jalanan arah Masjid Kebun Raya Bogor.
Penampakan bunganya yang berwarna kuning kecokelatan itu, bisa disaksikan pengunjung dari jarak sekitar tiga sampai empat meter.
Hal itu dikarenakan posisi tanaman anggrek ini menempel di bagian tengah batang pohon. Ketika berdiri di bawahnya, pengunjung akan mencium semerbak wangi anggrek tersebut.