BOJONEGORO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, mengeluarkan peringatan awas gas beracun dan tanah ambles, menyikapi munculnya semburan lumpur bercampur air di Desa Jari, Gondang.
"Saya menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas ESDM segera mengeluarkan peringatan awas gas beracun dan tanah ambles di lokasi semburan lumpur Jari," kata Bupati Bojonegoro Suyoto, Jumat (15/4/2016).
Suyoto menyampaikan, hal itu menanggapi hasil laporan penelitian Tim Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Kementerian ESDM Bandung dan Yogyakarta selama dua hari di lokasi semburan lumpur Desa Jari.
Ia juga menginstruksikan BPBD dan Dinas ESDM segera memasang papan peringatan di sekitar lokasi semburan lumpur. Selain itu, juga menyosialisasikan kepada masyarakat terkait dengan adanya gas beracun di lokasi tersebut.
"Segera sosialisasikan kepada masyarakat soal gas beracun di semburan lumpur Jari agar masyarakat semua tahu," ucapnya.
Di lokasi, dia meminta segera dipasang papan peringatan yang berisi larangan bahwa warga jangan terlalu lama di lokasi semburan, termasuk mendekat, karena ada ancaman tanah ambles di sekitarnya.
"Papan peringatannya tulis saja awas gas beracun, jangan ditulis awas gas CO2 sebab masyarakat bisa tidak tahu maksudnya," katanya.
Sesuai dengan laporan Koordinator Peneliti Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung, semburan lumpur di Jari mengandung gas beracun CO2 sebesar 70 persen yang bisa mematikan manusia.
"Batas aman gas CO2 bagi manusia, yaitu 0,5 persen," ucap peneliti lainnya, Dr. Hanik Humida.
Gas lainnya yang terdeteksi, gas H2S (hidrogen sulfida) sebesar 100 ppm, sedangkan ambang batas yang diperbolehkan 10 ppm. Selain itu, juga terdeteksi gas SO2 (sulfur) sebesar 20 ppm, sedangkan ambang batas yang diperbolehkan 4 ppm, juga ditemukan gas metana, dan hidrokarbon sebesar 14 lower explosive limit (LEL).
"Gas CO2 atau karbondioksida tidak berwarna dan berbau. Orang yang menghirup tidak terasa, tetapi tiba-tiba jatuh dan meninggal dunia," kata Igan.
Dari hasil pengukuran suhu di lokasi semburan, lanjut Igan, mencapai 54 derajat celsius yang disebabkan adanya letusan lumpur dari perut bumi.
(Fransiskus Dasa Saputra)