JEPARA - Pada 137 tahun lalu, di Mayong, Jepara, lahir bayi perempuan yang ditakdirkan bakal menjadi pembaharu bagi kaumnya yang dimarjinalkan oleh adat feodalisme Jawa. Dia adalah Raden Ajeng Kartini Djoyohadiningrat, anak keempat Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dari rahim istri pertamanya, Mas Ajeng Ngasirah.
Penulis Buku Kartini Pembaharu Peradaban, Hadi Priyanto mengatakan RA Kartini seperti memiliki kemampuan membaca takdirnya sendiri. Dari surat menyuratnya dengan Rosa Abendanon, Kartini mengisyaratkan hidupnya tidak akan panjang lagi.
"Ketika mengandung umur 7 sampai 8 bulan, Kartini berkirim surat ke Abendanon: ‘Mungkin ini surat saya terakhir, Ibu. Saya tidak sempat lagi menulis surat ke Ibu’. Waktu dia dapat kiriman dari Abendanon baju bayi, kemudian dia membalas surat, seakan-akan sudah tahu (takdirnya)," ujar Hadi.
Bahkan, jauh hari sebelum Kartini menikah dengan Bupati Rembang, Kartini seperti sudah menitip wasiat kepada dua adiknya, Raden Ajeng Roekmini dan Raden Ajeng Kartinah.
"Dia sudah ngomong dengan Rukmini dan Kartinah. Kartini bilang, mungkin usia saya tidak akan lama. Oleh karena itu, kalau saya punya anak tolong dirawat dengan baik," ungkap Hadi mengutip wasiat Kartini.
Hadi menambahkan, pada surat Kartini ditemukan ungkapan yang bisa dipahami seperti membaca takdir. "Harusnya saya lahir seratus tahun lagi, ketika bangsa Jawa sudah seperti yang saya impikan,” ucapnya menirukan tulisan Kartini.
Hadi mengatakan pesan itu ditulis 1903. Jika 100 tahun lagi, berarti Kartini harusnya lahir 2003. [Baca Juga: Kilas Balik RA Kartini, Hari-Hari Menegangkan Sebelum Menikah (1)]
(Abu Sahma Pane)