SEMARANG - Nama Kiai Soleh Darat, ulama asal Semarang Jawa Tengah memang tak setenar murid-muridnya seperti RA Kartini, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Ahmad Dahlan. Ketiga orang itu memiliki peran yang sangat besar dalam perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.
Padahal, mereka bisa menjadi tokoh besar tak lepas dari sentuhan tangan dingin gurunya yang tak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap Tanah Air. Namun, mengapa sang guru yang memiliki andil besar menciptakan tokoh-tokoh bangsa itu tak banyak dikenal?
“Pertanyaan seperti ini memang sering menggelitik kami. Mana bisa seorang mahaguru tidak dikenal? Penjelasannya begini, Mbah Soleh itu mashur, sangat terkenal pada zamannya, yang lahir pada 1820 dan wafat 1903 M,” kata penulis buku Biografi KH Sholeh Darat, Mohammad Ichwan pada Okezone.
Mbah Soleh saat itu dipercaya memegang kendali Pondok Pesantren Darat oleh mertuanya, KH Murtadlo, memiliki banyak murid dari berbagai penjuru. Keilmuan Kiai Soleh yang pernah menjadi mufti (guru besar) di Mekkah itu juga diakui oleh ulama internasional.
“Pesantren itu berkembang pesat, namun saat beliau wafat tidak ada penerusnya, karena putra-putra beliau masih kecil. Ini persoalan klasik pondok pesantren, kalau kiai meninggal dan putranya tidak meneruskan biasanya akan hilang,” terangnya.
Sepeninggal Kiai Soleh, Ponpes Darat mulai surut. Penerus pertama yakni menantunya yang bernama Kiai Dahlan asal Termas Pacitan. Namun, tak lama kemudian Kiai Dahlan meninggal dan tampuk kepemimpinan ponpes dipegang menantu lainnya yang bernama Kiai Amil.
“Mungkin karena saat itu masih dalam masa perang ya, melawan Belanda dan Jepang, ponpes dipindahkan ke Pekalongan tempat asal Kiai Amil. Lalu sebagian santri juga dibawa oleh santri Mbah Soleh yang bernama Kiai Idris ke Solo. Jadi memang makin habis santrinya,” ungkap Ichwan.
Menurutnya, hal itulah yang menyebabkan, nama Kiai Soleh Darat semakin tenggelam setelah wafat. Sementara murid-muridnya yang mendapatkan bekal ilmu agama dan jiwa nasionalisme, kian berkibar sebagai tokoh bangsa.
“Sebut saja Mbah Hasyim Asy’ari yang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) hingga kini menjadi organisasi terbesar. KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah, makanya sampai sekarang dikenal oleh masyarakat,” terang pengurus Lakpesdam NU Kota Semarang itu.
(Risna Nur Rahayu)