Pembebasan 10 WNI Dinilai Hasil Operasi Intelijen Bukan Diplomasi

Arie Dwi Satrio, Jurnalis
Rabu 04 Mei 2016 21:30 WIB
Foto: Illustrasi Okezone
Share :

JAKARTA - Pembebasan 10 Warga Negara Indonesia (WNI) korban penyanderaan Abu Sayyaf di perairan Filipina beberapa waktu lalu dinilai sebagai hasil kerja dari operasi intelijen TNI.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Boni Hargens melihat proses dan usaha yang cukup keras dilakukan oleh jajaran TNI dalam menyelamatkan para sandera dan justru bukan hasil dari diplomasi seperti yang dikatakan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi.

"Ini murni keberhasilan kerja intelijen kita dan TNI terutama. Saya amati betul bagaimana proses kerja intelijen kita dengan dukungan penuh dari TNI kita dalam mengupayakan pembebasan para sandera,” kata Boni di Jakarta, Rabu (4/5/2016).

(Baca juga: Menko Polhukam Minta Surya Paloh Jangan Klaim Pembebasan 10 WNI)

Komisaris Antara itu juga menjelaskan, bahwa 10 WNI tersebut disandera oleh kelompok Alhabsy Misaya pimpinan Uddon Hassim. Kelompok ini merupakan cabang dari grup Abu Sayyaf yang merupakan kelompok radikal yang utama di selatan Filipina. Abu Sayyaf dibentuk tahun 1989 oleh Abdurajak Janjalani.

"Tidak mungkin menghadapi kelompok seperti ini hanya dengan mengandalkan diplomasi yang berbasis teks buku,” sambung Boni.

"Operasi seperti ini selalu merupakan keunggulan intelijen karena berkomunikasi dengan para teroris itu tidak mudah. Diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang mereka, termasuk bagaimana cara efektif berkomunikasi dengan mereka,” sambungnya.

Menurut Boni, perlu keahlian khusus dalam mencermati gerak-gerik pelaku penyanderaan dan itu hanya dimiliki oleh para TNI, oleh karenanya negara perlu mengapresiasi kinerja dari para TNI.

“Ini murni kerja intelijen dan TNI. Negara harusnya memberikan apresiasi dan penghargaan kepada mereka yang telah berjasa mengupayakan pembebasan para sandera ini,” tukasnya.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya