Komisaris Antara itu juga menjelaskan, bahwa 10 WNI tersebut disandera oleh kelompok Alhabsy Misaya pimpinan Uddon Hassim. Kelompok ini merupakan cabang dari grup Abu Sayyaf yang merupakan kelompok radikal yang utama di selatan Filipina. Abu Sayyaf dibentuk tahun 1989 oleh Abdurajak Janjalani.
"Tidak mungkin menghadapi kelompok seperti ini hanya dengan mengandalkan diplomasi yang berbasis teks buku,” sambung Boni.
"Operasi seperti ini selalu merupakan keunggulan intelijen karena berkomunikasi dengan para teroris itu tidak mudah. Diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang mereka, termasuk bagaimana cara efektif berkomunikasi dengan mereka,” sambungnya.
Menurut Boni, perlu keahlian khusus dalam mencermati gerak-gerik pelaku penyanderaan dan itu hanya dimiliki oleh para TNI, oleh karenanya negara perlu mengapresiasi kinerja dari para TNI.
“Ini murni kerja intelijen dan TNI. Negara harusnya memberikan apresiasi dan penghargaan kepada mereka yang telah berjasa mengupayakan pembebasan para sandera ini,” tukasnya.
(Awaludin)