"Presiden dalam pidatonya memang tidak membicarakan pilihan politiknya secara jelas karena itu tidak elok. Sebagai negarawan, Presiden Jokowi memahami hal tersebut. Namun, dalam pidatonya tersebut secara implisit mengarah pada salah satu caketum," sambungnya.
Namun kata dia, Presiden Jokowi malah membicarakan infrastruktur dan percepatan pembangunan yang artinya Indonesia membutuhkan seorang insinyur.
"Menarik karena dari deretan Caketum Golkar, hanya Airlangga Hartarto yang bergelar insinyur," tandasnya.
(Angkasa Yudhistira)