Ikan dari Teluk Jakarta Tercemar Polutan

Agregasi Pikiran Rakyat, Jurnalis
Selasa 07 Juni 2016 08:49 WIB
Ilustrasi
Share :

BOGOR – Kualitas ikan dari Teluk Jakarta dapat dikategorikan buruk. Pasalnya, kandungan polutan dalam ikan yang diambil dari Teluk Jakarta lebih tinggi 46 persen dibandingkan ikan dari wilayah lain, seperti Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat.

Hal tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK IPB), Djamar T.F. Lumban Batu.

Hasil penelitian bersama timnya membuktikan kualitas ikan dari Palabuhanratu Sukabumi jauh lebih baik dibandingkan ikan dari Teluk Jakarta. Salah satu penyebabnya karena semakin banyaknya polutan di Teluk Jakarta.

"Salah satu hasil riset kami membuktikan kandungan polutan pada ikan kakap dan kembung di Perairan Teluk Jakarta lebih tinggi 46 persen dibandingkan dengan di Perairan Palabuhanratu. Ini artinya kualitas ikan di Palabuhanratu jauh lebih baik dari ikan dari Teluk Jakarta," kata Djamar, seperti dikutip dari Pikiran Rakyat, Selasa (7/6/2016).

Djamar mengatakan, keberadaan sumber polusi atau polutan di perairan saat ini mulai berpengaruh pada produktivitas perikanan, kesehatan ekosistem, keamanan pangan, dan biomedis.

Djamar menambahkan, ikan sebenarnya memiliki kemampuan untuk melakukan biotransformasi, bioakumulasi, dan detoksifikasi untuk menurunkan derajat toksisitas dari bahan berbahaya yang terserap oleh tubuhnya. Di sisi lain, ikan juga mampu membentuk metabolit-metabolit yang lebih reaktif, mutagenik, karsinogenik, dan sangat beracun.

Organ yang mampu melindungi tubuh ikan dari bahan polutan berbahaya adalah hati. Selama sepuluh tahun, dia bersama timnya melakukan riset mengenai polutan dan organ hati pada ikan tersebut.

Tak hanya polutan di perairan bebas, Djamar juga mengingatkan, konsumen berhati-hati pada residu antibiotik yang diberikan pada ikan dalam budidaya ikan.

Biasanya, pembudidaya ikan melakukan pencegahan dan perlakuan terhadap penyakit infeksi pada ikan dengan menggunakan berbagai jenis antibiotik. Padahal, residu antibiotik dalam tubuh ikan ini yang perlu diwaspadai, karena jika dikonsumsi manusia dalam jumlah banyak akan bersifat karsinogenik (penyebab kanker).

Sementara, pakar oseanografi IPB, Alan Frendy Koropitan menilai, perlambatan arus yang terjadi di Teluk Jakarta membuat pergerakan material berupa limbah organik, sedimen, dan logam berat ikut terhambat. Hal itu mengakibatkan waktu cuci teluk melambat sehingga material cenderung tertinggal dan mencemari perairan.

"Hasil kajian yang kami lakukan sejak 2005 menyebutkan terjadi perubahan bentang alam 17 pulau reklamasi baru yang memperlambat kecepatan arus. Makanya, Teluk Jakarta memang butuh direhabilitasi, bukan direklamasi," ujarnya.

Hal itu pula yang menyebabkan hampir setiap tahun ada saja ikan yang mati dalam jumlah banyak karena limbah organik yang sangat tinggi. Kematian ikan dalam jumlah besar ini menjadi salah satu indikator Teluk Jakarta tercemar.

(Fransiskus Dasa Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya