“Usianya sudah 26 hari, tapi bobotnya menurun drastis, hanya 9 ons rata-rata. Ada juga yang paling kecil yaitu hanya setengah kilogram saja. Masa pertumbuhannya juga sangat lambat, untuk pakannya saya berikan 80 kilogram untuk tujuh hari. Sedang untuk obatnya, saya sudah menghabiskan biaya sekitar Rp1,2 juta,” ujarnya lagi.
Dirinya memberikan obat penyembuhan dengan cara memvaksin, menyemprot kandang untuk membunuh lalat dan bau, vaksin, vitamin, obat CRD.
“Tak hanya itu, penyembuhan juga saya berikan dengan gula merah, kencur, kunyit, dan kacang hijau yang dicampur susu. Tapi juga tidak membuahkan hasil. Meski sisanya tinggal sedikit, tetap harus diperhatikan agar ayam-ayam ini terus bertahan hidup,” tukas Khairul
Tak hanya menyerang ayam pedaging, virus CRD ini juga menyerang puluhan ayam kampong di Desa Cot Girek. Ciri-ciri ayam yang diserang CRD ini diantaranya bulu ayam kusut, kedua sayapnya turun, kurus, mata bengkak, kaki lumpuh dan diare.
“Penyakitnya sama, ngorok. Gak pandang bulu, ayam kampung juga diserangnya. Sudah 35 ekor ayam kampung milik saya mati mendadak, saya tentu rugi. Bulan lalu saya juga gagal panen ternak ayam broiler akibat diserang virus yang sama,” ujar Syamsul (31) peternak ayam kampung di Desa Cot Girek.
(Amril Amarullah (Okezone))