Ade pun bersyukur berat badan sang anak menurun dari hari ke hari. Ia berharap program dari tim dokter akan berhasil hingga akhirnya Arya bisa memiliki proporsi tubuh ideal seperti anak seusianya.
Tapi ia tak mau muluk-muluk. Untuk saat ini, ia mengamini harapan sang anak yang ingin berat badannya turun hingga 100 kilogram. Bobot 100 kilogram dirasa akan bisa membuat Arya kembali beraktivitas seperti biasa, terutama pergi ke sekolah untuk belajar.
Sebab dalam kurun setahun terakhir, Arya justru sekolah di rumah dengan cara jemput bola yang dilakukan guru-gurunya. Itu karena ia kesulitan untuk berjalan kaki ke sekolah meski hanya berjarak sekira 60 meter dari rumah. Alhasil, justru guru yang datang ke rumah Arya untuk mengajar.
"Sebenarnya (dengan berat badan saat ini) bisa sih ke sekolah. Tapi kalau dipaksakan suka muntah. Paling jalan kaki 20 meter, istirahat, jalan lagi sekian meter, istirahat lagi. Kalau dipaksakan, muntah," tutur Ade.
Ia pun bersyukur dengan perhatian yang diberikan guru dan pihak sekolahnya yaitu SDN Cipurwasari I, Tegalwaru, Karawang. Sebab mereka menaruh perhatian terhadap Arya. Proses belajar yang dilakukan di rumah pun bukan permintaan keluarga, melainkan kesadaran pihak guru dan sekolah.
"Itu gurunya yang mau datang ke rumah karena melihat anak saya tidak sekolah, padahal anaknya berprestasi," tandas Ade.
(Fiddy Anggriawan )